Jakarta, Aktual.com – Sejarahwan JJ Rizal anggap proyek normalisasi Sungai Ciliwung dengan betonisasi dan memasang dinding parapet di pinggir sungai merupakan proyek ‘durhaka’ kepada identitas Jakarta.

Alasan dia, proyek dengan bentuk semacam itu sama saja dengan memisahkan keberadaan Sungai Jakarta dan daratan yang telah lama jadi satu kesatuan. “Makanya (menurut saya) istilahnya proyek itu sebenernya proyek durhaka,” ucap dia saat dihubungi Aktual.com, Jakarta, Selasa (1/2).

Tutur Rizal, Sungai Ciliwung sebenarnya merupakan ‘saudara kembar’ Jakarta. Di mana pada masa pleistosen (awal masa prasejarah), daratan Jakarta terbentuk akibat hujan tropis yang mengikis punggung gunung di selatan Jakarta.

Kemudian, sambung dia, lumpur tanah kikisan gunung itu terbawa ke utara dan menjadi daratan alusial yang berbentuk kipas. “Daratan yang seperti kipas itulah yang kemudian menjadi Jakarta,” tuturnya.

Secara historis, kata pegiat Komunitas Bambu itu, peradaban kota Jakarta tidak lepas dari kehidupan sungai. Di mana peradaban tertua ditemukan di tepian Sungai Ciliwung. Yang pada akhirnya menciptakan suatu budaya sungai antara sungai dan masyarakatnya.

“Jadi kalau ada yang mau memisahkan seperti itu antara masyarakat dengan sungainya, itu hanya orang gila. Orang yang menghina identitas Jakarta,” tandas dia.

()