Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan percepatan pembangunan 30 proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi di Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (31/3/2026). Percepatan difokuskan pada wilayah dengan timbulan sampah tinggi, terutama yang mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.
Pria yang akrab disapa Zulhas menegaskan bahwa percepatan proyek ini diberikan untuk menangani kondisi darurat sampah di berbagai wilayah. “Atas arahan Bapak Presiden, dilakukan percepatan pembangunan PSEL untuk menyelesaikan kedaruratan sampah,” tegasnya.
Jumlah proyek yang ditetapkan sebanyak 30 wilayah merupakan hasil penyederhanaan dari usulan awal yang lebih banyak. Proyek ini tetap mencakup 61 kabupaten/kota karena beberapa daerah digabung dalam satu kawasan layanan.
Pendekatan aglomerasi dilakukan agar pembangunan lebih efisien dan menjangkau lebih banyak daerah sekaligus. “Kami sudah menyelesaikan hari ini 30, tapi sebenarnya itu mencakup 61 kabupaten/kota karena ada beberapa yang digabung dalam satu layanan,” kata Menko Zulhas.
Kapasitas pengolahan dari seluruh proyek PSEL diperkirakan mencapai 14,4 juta ton sampah per tahun, setara 22–24 persen dari total timbulan sampah nasional.
Untuk sisa sampah lainnya, pemerintah akan mengoptimalkan penanganan melalui sektor non-rumah tangga, seperti industri, pasar, sekolah, dan fasilitas publik, yang ditargetkan selesai dalam kurun waktu empat tahun.
Empat wilayah, yakni Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta, telah memasuki proses tender dan siap dibangun. Enam wilayah lain, seperti Lampung Raya, Semarang Raya, Surabaya Raya, Serang Raya, Kabupaten Bekasi, dan Medan Raya, telah diverifikasi dan segera dilelang. Pemerintah juga mempercepat kesiapan lahan, termasuk di DKI Jakarta yang masih tahap finalisasi.
Proyek tahap pertama ditargetkan mulai beroperasi pada Oktober 2027, sementara tahap berikutnya rampung Mei 2028. Zulhas optimistis target dapat tercapai karena teknologi pengolahan sampah telah tersedia dan siap diterapkan.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















