Jakarta, Aktual.co — Tampilan website resmi Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres) terlihat tak seperti biasanya, isi laman berubah total, menghitam, dan terdapat gambar menyeramkan tengkorak ala ninja. Disinyalir website Paspampres ini telah diretas oleh oknum hacker.
Berdasarkan pantauan Aktual.co ke laman paspampres.mil.id, Sabtu (2/5) siang, di laman tersebut terdapat pula tulisan “Hacked by Redsmoke”. Tak hanya itu, di laman tersebut terpampang pula akun Twitter @redsm0ke, serta alamat email dengan [email protected].
Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui pula siapakah hacker di balik serangan model deface ini. Domain mil.id sendiri sengaja dibuat PANDI (Pengelola Nama Domain Internet Indonesia) untuk kebutuhan militer. Belum jelas pula apakah administrator website Paspampres yang menangani website tersebut telah mengetahui kejadian ini, lantaran hingga saat ini tampilan deface tersebut masih dapat ditemui.
Melansir laman Wikipedia, deface adalah aktifitas yang mengotori, “menodai”, merubah inti dari isi halaman suatu website dengan tulisan, gambar, ataupun link yang membuat suatu link menjadi melenceng dari perintah yang kita buat. Sedangkan pengertian dari web deface adalah melakukan perubahan pada halaman web depan pada situs-situs tertentu, dilakukan oleh para hacker atau cracker untuk mengganggu informasi yang dimunculkan pada halaman situs yang dimaksud.Pengertian mudahnya, web deface adalah menambahkan gambar, tulisan ke suatu web milik orang lain tanpa sepengetahuan adminnya.
Defacing adalah merupakan bagian dari kegiatan hacking web atau program application, yang menfokuskan target operasi pada perubahan tampilan dan konfigurasi fisik dari web atau program aplikasi tanpa melalui source code program tersebut. Sedangkan deface itu sendiri adalah hasil akhir dari kegiatan cracking. Tekniknya adalah dengan membaca source codenya, terus ngganti image dan editing html tag.
Serangan dengan tujuan utama merubah tampilah sebuah website, baik halaman utama maupun halaman lain terkait dengannya, diistilahkan sebagai “Web Defacement”. Hal ini biasa dilakukan oleh para “attacker” atau penyerang karena merasa tidak puas atau tidak suka kepada individu, kelompok, atau entitas tertentu sehingga website yang terkait dengannya menjadi sasaran utama.
Artikel ini ditulis oleh:

















