Jakarta, Aktual.co — Slackline adalah termasuk salah satu olahraga ekstrim yang menitikberatkan pada keseimbangan yang memakai tali antara dua titik. Slackline mampu dengan cepat berkembang karena kesederhanaan, fleksibilitas, dan kemampuannya untuk dilakukan di berbagai tempat. Para penggiat yang bermain slackline biasanya disebut “slackers”.
Keunikan dari slackline dari olahraga ektrim lainnya, terletak pada sensasi psikologisnya. Slackline lebih menekankan pada upaya mendobrak batas mental manusia. Selain itu, slackline bermanfaat untuk melatih konsentarasi dan fokus.
Sekedar informasi, slackline masuk ke Indonesia pertama kali pada 2008 lalu, setelah seorang pegiat panjat tebing asal Yogyakarta, Arka Setiawan yang mencoba olahraga tersebut di Jerman. Salah satu komunitas yang bergerak dalam olahraga ini bernama IndoSlackline, yang berdiri pada Mei 2012. Proses terbentuknya dari referensi temannya dari Inggris, Graham Mitchell.
“Dia memperkenalkan slackline pada acara gathering pendaki gunung di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Kebetulan teman saya (Agus) suka dengan olahraga itu. Kemudian kami bertiga (Graham Mitchel, saya dan Agus) membuat komunitas yang bermain di Taman Surapati,” kata Isro Adi Harso, pendiri Indoslackline.
Isro mengungkapkan alasan dirinya memilih olahraga ini sebagai sebuah gaya hidup (lifestyle) anak muda perkotaan. “Slackline adalah olahraga sederhana dengan disiplin ilmu yang kompleks. Selain itu olahraga ini lebih mengasah batas mental dan fisik kita. Keinginan terbesarnya, ingin ikut gathering ‘Urban Highlining’ di Polandia. Karena slackers dari seluruh dunia datang ke sana,” ungkapnya.
Tujuan didirikan slackline, sebagai media untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar lebih mengenal olahraga ekstrim tersebut. Selain itu, juga sebagai tempat untuk mencari bibit-bibit baru. Program kegiatannya terdiri dari, latihan rutin, sosialisasi, traveling, gathering, dan coaching clinic.
Di Indonesia komunitas slackline ada di sepuluh kota besar di tanah air. Sedangkan, Indoslackline mewadahi komunitas di Jakarta, Cilacap, Purwokerto, Yogyakarta, dan Solo. “Target kita ke depan, sedang membuat grup slackline yang mewadahi komunitas di seluruh Indonesia,” ucapnya menambahkan.
Indoslackline memiliki jumlah anggota 100 orang, dengan usia berkisar paling muda 5-42 tahun. Slackline terbagi menjadi enam kategori umum yakni, urbanlining (perkotaan), tricklining (akrobatik), waterlining (pantai), highlining (ketinggian), tunelining (musik), windlining (kondisi yang sangat berangin).
Alat-alat utama yang dipakai dalam olaharaga ini yaitu line ( tali webbing khusus slackline. Untuk highline ukurannya 2,5 cm. Trickline 5 cm), pulley system (double pulley, jumar/ascender/croll, shackle, tali kernamtel, line lock, MR/rapid), brake system (grigri, carabinner/MR), anchor system (hanger/dynabolt set, round sling, shackle, padding), back up system (round sling, pulley, kernamntel), dan safety (tali leash dynamis, ring lock, harness).
Sementara itu, beberapa trik slackline diantaranya, walking backwards, turns, drop knee, running and jumping, bounce walking, Spiral dan trifoll, dan backflip. “Materi latihan untuk pemula, paling dasar itu dia harus bisa berdiri seimbang di atas tali minimal 15 detik, kemudian mulai berjalan (paling bikin frustasi) biasanya 1 bulan. Kemudian Mulai melakukan trick,” tandasnya.
Artikel ini ditulis oleh:

















