Jakarta, Aktual.co — Tindakan anarkisme Polisi dalam mengendalikan demonstran tolak kenaikan BBM dan tuntutan Upah sudah melewati batas batas kemanusian.
Demikian disampaikan Ketua DPP Gerindra Arif Poyuono dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (27/11) malam.
“Hai petugas polisi yang kami perjuangkan dan yang kami protes adalah juga untuk melindungi keluargamu, kerabatmu dari himpitan kesulitan ekonomi akibat imbas kenaikan harga BBM jadi kalian sangat keterlaluan dalam menghadapi kami,” ujar Poyuono. 
Karena itu, sambung dia, Partai Gerindra memgecam keras tindakan anarkis polisi terhadap para mahasiswa dan buruh diseluruh Indonesia
“Makasar telah jatuh korban nyawa melayang akibat kekerasan yang dilakukan oleh tindakan refresif aparat kepolisian kota makasar,” sergahnya. 
Dan yang paling Gerindra kecam adalah penyerbuan ke masjid di UMI Makasar yang sudah tidak memperdulikan lagi sebuah tempat untuk beribadah.
Artinya para mahasiswa lari dan berlindung di Masjid mengartikan para Mahasiswa sudah mencari perlindungan pada Allah dari kebringasan anggota kepolisian .
Jika terus dilakukan maka tidak tertutup kemungkinan akan menciptakan amuk  massa yang besar terhadap institusi kepolisian duseluruh Indonesia  “Karena itu kami mendesak Kapolri untuk mengingatkan dengan keras terhadap anggotanya untuk tidak bertindak diluar batas dalam menanggani aksi demonstrasi. Apalagi sudah meyerbu tempat ibadah yang bisa meyulut kemarahan masyarkat Indonesia yang sangat religius,” demikian Arif.
Seperti diketahui, seorang pendemo yang bergabung dengan mahasiswa saat sedang melakukan unjuk rasa di kantor Gubernur Sulsel, tertabrak mobil water canon polisi, Kamis (27/11).

Artikel ini ditulis oleh: