Jakarta, Aktual.co —  PT Petrokimia Gresik (Petrogres) dan Husky-CNOOC Madura Limited menandatangani perjanjian jual beli gas untuk pabrik amoniak-urea kedua yang akan segera dibangun di Gresik, Jawa Timur.

“Pabrik amoniak-urea II ini sangat penting bagi kami guna memenuhi kekurangan amoniak yang selama ini dipenuhi dari impor,” kata Dirut Petrogres Hidayat Nyakman pada penandatanganan perjanjian jual beli gas antara Petrogres dan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) di Jakarta, Kamis (30/4).

Ia menjelaskan saat ini kapasitas produksi amoniak yang ada hanya 445.000 ton/tahun, padahal Petrogres membutuhkan 850.000 ton amoniak/tahun untuk bahan baku pupuk urea dan NPK Phonska.

“Untuk menutupi kekurangan amoniak tersebut, kami impor dari PT Pupuk Kalimantan Timur dan Iran,” kata Hidayat.

Oleh karena itu, perjanjian jual beli dan pasokan gas dari HCML tersebut sangat penting untuk menjamin bahan baku untuk pabrik amoniak-urea II yang diperkirakan membutuhkan investasi 661 juta dolar AS.

“Dengan adanya pabrik kedua, kami bisa menghemat 16 juta dolar AS/tahun untuk transportasi (shipment) saja,” kata Hidayat.

Asumsi tersebut berdasarkan perhitungan biaya pengapalan amoniak yang mencapai 40 dolar AS/ton dan volume impor sebesar 400.000 ton/tahun.

Rencananya pabrik amoniak-urea II mulai beroperasi sekitar Agustus – Oktober 2017 dengan kapasitas produksi amoniak mencapai 200 ton/hari atau 669.000 ton/tahun dan pupuk urea sebesar 1.725 ton/hari atau setara dengan 570.000 ton/tahun.

“Kami mengharapkan HCML bisa memenuhi target, agar bisa memasok gas bersamaan dengan rampungnya pembangunan pabrik amoniak-urea II,” ujar Hidayat.

General Manager HCML Huang Chunlin mengatakan pihaknya akan berupaya memenuhi target tersebut. Saat ini tender pengerjaan gas telah dilakukan, termasuk proses izin dari SKK Migas.

“Memang hal-hal itu butuh waktu, tapi kami berusaha memenuhi jadwal (pasokan gas) tersebut,” katanya.

Berdasarkan kontrak perjanjian jual beli yang ditandatangani tersebut, HMCL akan memasok gas ke pabrik amoniak-urea II milik Petrogres sebesar 85 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dengan harga kontrak sebesar 6,5 dolar AS/ MMBTU dan ada eskalasi kenaikan harga dengan sekitar 2,5 – tiga persen per tahun.

Untuk membangun pabrik kedua, Petrogres mendapat kredit antara lain dari BNI 46 sebesar Rp1 triliun dan CIMB Niaga sebesar Rp1,5 triliun. Hidayat berharap akan mendapat tambahan kredit dari bank nasional lainnya sebesar Rp1-1,5 triliun lagi.

“Pembiayaan sebagian besar 70 persen dari sejumlah bank, dan sisanya 30 persen dari internal,” ujarnya.

Ia mengatakan dengan pembangunan pabrik kedua, maka total kapasitas produksi urea Petrogres mencapai sekitar satu juta ton per tahun, sehingga akan mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan pupuk urea di Jawa Timur yang mencapai 1,2 juta ton/tahun, di samping pupuk majemuk dan pupuk lainnya seperti SP-36, ZA, dan KCL.

Petrogres merupakan salah satu anak perusahaan induk BUMN pupuk yaitu PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC). Selain Petrogres, ada empat BUMN pupuk lainnya dibawah PIHC yaitu PT Pupuk Sriwijaya, PT Pupuk Kalimantan Timur, PT Pupuk Kujang, dan PT Pupuk Iskandar Muda.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka