Jakarta, Aktual.co — Real Estat Indonesia (REI) Jawa Tengah mengaku sulit merealisasikan pembangunan rumah sederhana melalui program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) yang digagas oleh Pemerintah.
“Banyak pengembang yang kesulitan menyuplai kebutuhan rumah FLPP ini karena kami menghadapi beberapa kendala,” kata Wakil Ketua REI Jateng Bidang Tata Ruang Joko Santoso di Semarang, Kamis (30/4).
Menurutnya, selain pengadaan tanah yang membutuhkan biaya besar, minat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk membeli rumah sederhana tersebut juga masih rendah.
“Kami melihat kondisi di lapangan, yang terjadi adalah konsumen rumah sederhana yaitu MBR ini kesulitan membayar uang muka dan membayar cicilan di setiap bulannya,” katanya.
Mengenai kondisi tersebut, diakuinya para pengembang sebetulnya tidak tinggal diam. Banyak para pengembang rumah sederhana yang menyiasatinya dengan memberikan kemudahan uang muka 5-10 persen, namun nyatanya minat masyarakat untuk membeli masih rendah.
Sementara itu, mengenai rencana pemerintah terkait uang muka sebesar 1 persen dan bunga 5 persen flat tersebut sejauh ini belum diterapkan. Pihaknya berharap jika peraturan tersebut sudah diterapkan maka segera ada sosialisasi dari pusat kepada para pengembang khususnya di daerah.
“Dengan demikian kami bisa segera bersikap. Mengenai rumah FLPP ini kan kami sifatnya membantu pemerintah, jadi untuk kewajiban dan tanggung jawab ada di tangan pemerintah,” katanya.
Mengenai pembangunan rumah sederhana sendiri, ke depan akan difokuskan ke daerah-daerah penyangga karena dengan harga Rp100 juta-an maka pembangunan tidak bisa dilakukan di kota besar yang harga tanahnya terus mengalami kenaikan.
“Pada dasarnya kami mendukung langkah pemerintah terkait rumah sederhana melalui program FLPP ini, dalam hal ini sifatnya adalah kami membantu apa yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Harapannya juga ada kemudahan-kemudahan agar kami lebih mudah membangun rumah sederhana,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















