Medan, Aktual.co — Terkait insiden pemukulan yang dialami jurnalis televisi Yusrizal saat aksi blokir jalan pedagang Sutomo, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut M Syahrir, menghimbau agar seluruh jurnalis lebih mengutamanakan keselamatan diri  dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
“Wartawan harus utamakan keselamatan lah. Apalagi disitu ada kelompok masyarakat yang sedang marah dan suasana sedang konflik,” ujar Syahrir di Medan, Selasa (28/4).
Syahrir mengapresiasi kinerja dan semangat para Jurnalis di lapangan dalam memperoleh informasi yang akan disampaikan kepada publik.
“Tugas kita menyampaikan informasi. Namun harus utamakan keselamatan dan tetap melakukan kordinasi dengan pihak keamanan saat melakukan peliputan apalagi liputan yang diambil situasinya sedang konflik,” katanya.
Menyangkut insiden pemukulan yang dialami salah satu awak jurnalis televisi saat aksi para pedagang Sutomo, Syahrir meminta pihak kepolisian agar dapat lebih jeli melakukan tindakan pencegahan terjadinya tindakan brutal hingga mencederai orang lain.
“Jangan juga membiarkan jika ada aksi berutal terhadap wartawan dibiarkan begitu saja,” tandasnya.
Sebelumnya diketahui, Jurnalis televisi swasta Yusrizal, menjadi korban pemukulan dan pengeroyokan saat berlangsungnya aksi blokir jalan oleh ratusan pedagang Sutomo Medan.
Kepada wartawan, Selasa (28/4) pagi, Yusrizal alias Miduk mengungkapkan dirinya sudah melaporkan penganiayaan yang dialaminya pada Senin (27/4) malam kemarin ke Polresta Medan sekitar pukul 23.00 Wib. “Tadi malam, sama kawan sudah melapor,” ujar Miduk.
Menurut Miduk, kondisi tubuhnya sendiri saat ini sudah agak membaik. Meski, disejumlah tubuh masih menyisakan lebam akibat pemukulan. “Sudah agak mendingan, tapi masih harus banyak istirahat,” kata Miduk.
Sebelumnya, saat aksi blokir jalan disusul bentrokan antara pedagang Sutomo dengan ratusan petugas Satpol PP dan pihak Kepolisian berlangsung, Senin (27/4) pagi kemarin, Miduk tengah melakukan peliputan.
Saat dirinya mengambil gambar aksi itu, dirinya didatangi sejumlah orang tak dikenal dari kerumunan para pedagang. “Apa kau rekam-rekam,” tutur Miduk menirukan ucapan salah seorang pengeroyok.
Miduk mengatakan, dirinya sudah menjelaskan bahwa dirinya adalah jurnalis. Namun, tetap saja sejumlah orang itu tak menerima penjelasan itu. “Kameraku langsung dirampas, dibanting, dan diinjak-injak,” katanya.
Tak hanya kamera dirampas dan diinjak, Miduk mengaku dirinya juga mendapat pemukulan. “Ini telingaku, punggung dan badan kenak pukul, rame mereka,” sebutnya.
Usai menerima pemukulan, Miduk langsung menghindar dari lokasi bentrokan itu. Dirinya mengamankan diri di kantor salah satu media televisi nasional yang berada di jalan HM. Yamin Medan.
Miduk saat itu tidak langsung melaporkan kejadian yang dialaminya. Dia merasa, bahwa pedagang hanya salah paham. “Mungkin hanya salah paham,” tandasnya. 

Artikel ini ditulis oleh:

Nebby