Denpasar, Aktual.co — Inisiator dan Penasehat Program Yayasan Institute for Development Economic and Planning (IDEP) Bali, Florence Cattin memaparkan jika Bali tengah mengalami krisis air bersih.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan lembaganya sejak tahun 2012 bahwa Bali mengalami krisis dan penurunan kualitas air bersih.
“Cadangan air bawah tanah di Bali tinggal 20 persen saja,” kata Florence di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Senin (28/4).
Bahkan, Florence memprediksi Bali akan mengalami krisis ekologi pada tahun 2020. “Bila tak ada mitigasi, 5 tahun lagi akan terjadi krisis air bersih, kualitas air minum terus menurun dan akan terjadi bencana ekologis di Bali,” papar dia.
Menurut dia, hal itu terjadi karena salah satu penyebabnya adalah intrusi air laut. Selain itu juga pengambilan air bawah tanah secara masif juga menjadi penyebab lainnya.
Dari data yang ditemukan, di daerah pesisir telah terjadi di mana air tanah mengalami eksploitasi terus menerus akan mengalami kebocoran. Air laut akan masuk ke darat melalui dalam tanah. Hal itu tidak dapat dikembalikan seperti semula.
Menurut dia, intrusi air laut yang memprihatinkan itu terjadi di sentra-sentra pariwisata. Beberapa yang sudah terdeteksi antara lain di kawasan Sanur, Kuta, Jimbaran, Kedongan, Nusa Dua. Sementara di wilayah Bali utara yang terdeteksi adalah di kawasan wisata Pantai Lovina Singaraja.
“Intrusi air laut ini terjadi karena banyak hotel, restoran dan sarana pariwisata lainnya mengambil air tanah secara massif. Pengambilan air tanah secara massif akan menyebabkan intrusi air laut ke daratan,” jelas dia.
Sementara peneliti dari Politeknik Negeri Bali, Ida Bagus Putu Bintana mengatakan, instrusi air laut merupakan konsekuensi dari penggunaan air tanah secara berlebihan di kawasan wisata Bali. Bahkan, saat ini hampir seluruh pesisir pantai di Bali sudah terjadi intrusi air laut. Bila hal ini tidak segera dimitigasi maka Bali akan tergantung pada air salinasi dengan reverse osmosis yang mahal.
“Salah satu cara pengembalian air tanah adalah dengan membuat sumur-sumur. Setelah ada sumur, air hujan atau air yang mengalir difilter dan kemudian dimasukan kembali ke dalam tanah,” ujarnya.
Pemerintah setempat harus lebih proaktif dalam upaya mitigasi intrusi air laut. Dalam penelitian yang dilakukannya, hanya dengan biaya 1 juta dolar Amerika sudah mampu membuat 150 sumur air hujan di 13 lokasi yang paling rawan intrusi air laut.
Lokasinya sudah teridentifikasi sesuai dengan tingkat keparahan intrusi air laut. Bila ini bisa direalisasikan, maka dalam waktu cepat bisa mengembalikan level air hingga 90 persen dalam 5 tahun di arena yang mengalami krisis air bersih dan terancam intrusi air laut.
Solusi lain adalah perlu adanya regulasi soal pembatasan penggunaan air bawah tanah oleh pemerintah terhadap industri hotel dan restoran.
Artikel ini ditulis oleh:












