Denpasar, Aktual.co — Puluhan rumah nelayan dibakar warga yang mengatasnamakan Catur Desa Adat Tamblingan di sekitar Danau Tamblingan, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali. Aksi mereka disaksikan aparat pemerintahan setempat. Pasca-aksi pembakaran itu, 22 Kepala Keluarga (KK) nelayan kini hidup tak menentu.

Koordinator Sekretariat Kerja Penyelamat dan Pelestarian Lingkungan Hidup (SKPPLH) Bali Made Mangku yang melakukan pendampingan warga menuturkan, sebanyak 22 KK itu kini mengungsi ke hutan lindung tak jauh dari lokasi.

Hidup mereka tak menentu dengan kondisi seadanya. “Mereka mengungsi ke hutan lindung. Kondisinya memprihatinkan, karena hidup seadanya. Di sana mereka tak boleh membuat bangunan sebagai pelindung,” kata Made Mangku, Minggu (26/4).

Menurut dia, di kawasan tersebut cuaca cukup dingin. Apalagi, Bali mulai memasuki musim penghujan. Tentu saja hal ini memperburuk kondisi mereka. “Mereka rentan terhadap penyakit, utamanya anak-anak dan lansia. Mereka sama sekali tak memiliki apa-apa lagi,” papar dia.

Menurut Made Mangku, pasca-digusur dan rumahnya dibakar, mereka benar-benar tak memiliki harta benda lagi. “Kita sangat prihatin. Kini mereka tak tahu harus ke mana,” tukasnya.

Apalagi, sejumlah anak-anak korban pembakaran itu mengalami trauma. Akibatnya, mereka enggan pergi ke sekolah akibat peristiwa nahas tersebut.

Sebelumnya, sejumlah nelayan menempati lokasi di kawasan Danau Tamblingan sejak tahun 1991. Kini, bangunan rumah mereka telah rata dengan tanah. Pun halnya dengan tempat ibadah  mereka yakni, Pura Samar di tengah pemukiman mereka juga rusak.

Hingga siang ini, kata Mangku tidak satupun pejabat atau aparat pemerintahan setempat tidak ada yang menyambangi para pengungsi. “Bagaimana mungkin ada pejabat yang sampai tidak peduli lagi dengan nasib dan kondisi warganya yang rumahnya dibakar,”sambungnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka