Jakarta, Aktual.co —Proyek reklamasi ternyata tidak hanya membuat kerusakan di kawasan yang bakal dibangun saja. Tapi juga di kawasan yang materialnya diambil untuk digunakan menguruk bakal lahan pulau buatan tersebut.
“Kerusakan yang jelas, pastinya yang pertama pengambilan sumber material,” kata Abdul Halim, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), kepada Aktual.co, Kamis (28/5).
Tutur dia, umumnya wilayah Jakarta sudah tidak bisa lagi menyediakan  bahan untuk mengurug pulau reklamasi, seperti pasir dan bebatuan.
“Yang bisa dilakukan adalah mengambil dari wilayah lain. selama ini wilayah yang menjadi target pengambilan bahan urug adalah di Bangka dan Jonggol,” ujar dia.
Dampaknya, tutur Abdul, sudah terasa di masyarakat nelayan di Bangka, yang kehilangan sumber pendapatannya karena laut menjadi keruh pasca pengambilan pasir laut di sana untuk reklamasi di Teluk Jakarta.
Di Jonggol pun kondisinya tak jauh berbeda. Karena diambil untuk reklamasi, tanah di sana menjadi cekungan yang berpotensi longsor. 
“Dari potensi bencana inilah bisa dikatakan reklamasi Teluk Jakarta tidak hanya merusak lingkungan yang jadi target lokasi, tapi juga memberi kerugian yang cukup besar terhadap masyarakat dan lingkungan yang diambil bahan urug.
Untuk jumlah materialnya, ini penghitungan kasar Abdul. Kata dia, per meter lahan reklamasi membutuhkan material 1.000 kubik. 
“Jika luas pulau G adalah sekitar 161 hektar, maka material yang dibutuhkan kurang lebih 161 ribu kubik. Untuk mengerjakan itu bisa menenggelamkan daerah lain. sama saja di mana-mana,” kata dia.

Artikel ini ditulis oleh: