Jambi, Aktual.com — Sebanyak 340 ton padi petani di Jambi dipastikan hilang karena 68 hektare sawah mengalami fuso akibat kekeringan yang melanda daerah itu.

“Seluas 68 hektare sawah kita fuso, itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Satu hektare sawah bepotensi menghasilkan padi sebanyak lima ton, artinya kita kehilangan 340 ton padi dalam musim tanam ini,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jambi, Amrin Aziz, di Jambi, Senin (27/7).

Dia menjelaskan, musim kemarau yang melanda Jambi jadi penyebab sawah petani kekeringan, dan upaya pengairan pun sulit dilakukan mengingat tidak adanya ketersedian sumber air. Padahal Pemprov sudah menyiapkan bantuan 20 unit pompa.

“Kita siapkan 20 unit antisipasi kekeringan, 10 unit sudah kita bantu ke Kabupaten Sarolangun, Merangin dan Muarojambi. Namun kekeringan memang tidak bisa kita hindari, disamping itu kendala lain jauhnya sumber air dari lahan,” katanya.

Meksi begitu kondisi itu sebenarnya bisa diatasi, tergantung kemauan pihak kabupaten. Namun kata Amrin SDM di Kabupaten masih lemah. Mereka tidak siap dengan anggaran yang telah disiapkan pemerintah pusat.

“Kalau bantuan pusat sudah luar biasa, tahun ini kita mendapat bantuan Rp250 miliar, mulai dari pra hingga pasca panen. Benih dan alinstan juga tersedia, tapi tergantung SDM di kabupaten. Bagimana petani itu didaftarkan sesuai persyaratan, dan dibantu. Mereka beralasan tidak ada dana, tapi kita punya dana perjalanan, jadi semua itu tergantung kemauan dari kawan-kawan di kabupaten. Tapi semua itu juga tergantung pimpinan, serta dibantu pengawasan dari bupati dan Sekda,” katanya menjelaskan.

Amrin juga menyebut, akibat kekeringan, lahan sawah yang mundur masa tanam sekitar 30 ribu hektare. Namun di Kabupaten Muaroajambi petani tetap menyisip dan menanam baru. Sebab berdasarkan ramalan BMKG, walaupun Jambi memasuki musim kemarau, tetapi tetap diselingi hujan.

“Kita sebenaranya tidak begitu kemarau ekstrem, tanah tidak retak-retak. Tapi di Kabupaten Tanjabtim memang susah, pertanaman sudah siap tapi tanahnya mengandung air asin,” katanya.

Kementerian Pertanian kata Amrin menginginkan Jambi sudah harus memiliki satu sumur bor untuk 200 hektare lahan sawah, upaya itu salah satu cara menghindari terjadi fuso saat musim tanam.

“Di Muarojambi, Kerinci dan Tanjabtim bisa kita siapkan sumur bor itu, kita upayakan bangun seperti di Jawa. Sebab tahun 2016 mendatang itu harus ada. Kalau sumur kecil saat musim banjir akan tertutup kembali,” ujarnya.

Disinggung hilangnya produksi padi sebanyak 340 ton itu bakal mengurangi target produksi padi Jambi, Amrin mengatakan pihaknya belum mengkalkulasi. Kalau pun produksi secara provinsi berkurang, itu disebabkan faktor alam.

Artikel ini ditulis oleh: