Jakarta, Aktual.co — Rencana Pemerintah untuk kembali merubah kebijakan terkait penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium dan Solar yang semula setiap sebulan sekali menjadi tiga sampai enam bulan sekali, menuai kritikan pedas dari Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) Faisal Basri.

“Saya kan selalu bilang pemerintah harus konsisten. Kalau BBM diserahkan ke pasar ya konsistenlah. Jadi kalau harga naik ya naik, buktikan konsistensinya,” kata Faisal saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (26/5).

Untuk itu, Faisal meminta kepada Pemerintah agar tetap konsisten dengan kebijakannya agar tidak mengganggu kredibilitas Pemerintah.

“Namun buktinya, ketika harga (MOPS dan kurs) naik tinggi, harga (BBM) tidak dinaikkan, terus mau 3 bulan sekali, ingat loh, kebijakan pemerintah itu yang diutamakan kredibilitas,” tukasnya.

Ia menjelaskan, di APBN subsidi BBM sudah dipangkas habis dari sekitar Rp200 triliun menjadi hanya Rp65 triliun hanya untuk subsidi minyak tanah dan solar. Tapi nilai subsidi di APBN itu tidak mencerminkan subsidi BBM sebenarnya. Karena sebetulnya pemerintah mensubsidi lebih besar dari Rp65 triliun, hanya saja sekarang subsidinya dititipkan di Pertamina.

“Jadi APBN-nya kan jadi semua, itu yang saya takutkan. Ini bukan artinya Faisal Basri itu neolib nih, karena meminta ke sistem pasar, padahal tidak ada urusan dengan itu. Karena dengan gagah berani pemerintah menetapkan harga BBM naik-turun. Eh inget ini bukan cabai, bukan kerupuk, ini migas nih. Kalau omongan pemerintah mencla-mencle tidak ada kepastian, pengusaha migas tidak pasti, pemerintah juga tidak punya kepastian,” tegas dia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka