Jakarta, Aktual.com — Kurs rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa (26/1) pagi berdasarkan data bloomberg berada di level Rp13.903/USD atau melemah 40 poin dari penutupan kemarin.
Laju rupiah pada perdagangan hari ini diproyeksikan masih dalam tren menguat. Karena tren positif di akhir pekan kemarin tentu akan memberikan harapan bagi para investor valuta asing terhadap adanya penguatan lanjutan. Meski begitu, perlu juga dicermati sentimen yang ada.
“Kami masih memperkirakan rupiah ada potensi pergerakan menguat di Support 13.950 serta Resisten 13.700. Tapi, tetap cermati sentimen yang ada terhadap laju Rupiah,” tandas analis PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada dalam analisis hariannya, Selasa (26/1).
Sebelumnya, kata dia, pihaknya menyampaikan laju rupiah pada perdagangan akhir pekan kemarin sempat menguat ke level Rp13.899 dan terus berlanjut hingga Rp13.874. “Ini tentu memberikan harapan akan adanya penguatan lanjutan,” katanya
Apalagi jika laju harga komoditas masih menunjukkan tren kenaikannya. Dengan asumsi harga komoditas masih bergerak positif, maka rupiah pun diharapkan dapat bergerak menguat dengan kisaran Support 14.040 dan Resisten 13.880. “Namun tetap harus perhatikan sentimen yang ada,” tandas dia.
Reza mengatakan, menjelang pidato Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Mario Draghi, para pelaku pasar diperkirakan masih akan melakukan aksi wait and see yang tercermin dari pelemahan beberapa mata uang dunia terhadap dollar AS.
Namun, lanjut Reza, saat ini para investor kini berfokus pada pergerakan euro terhadap dollar AS. “Pelemahan pada euro karena pelaku pasar masih menantikan pernyataan terkait rencana stimulus yang akan diberikan pada Maret mendatang,” ucapnya.
Dia mengatakan, jika Eropa memberikan tambahan stimulus untuk penguatan ekonominya, maka jumlah euro yang beredar akan semakin banyak, sehingga melemahkan euro.
“Dampak inilah yang masih diperhatikan para investor. Jika dollar AS berhasil menguat terhadap euro, maka tidak menutup kemungkinan dollar akan menguat terhadap beberapa mata uang lain,” papar Reza.
Selain itu, kata dia, rencana Federal Reserve AS untuk menaikan tingkat suku bunga secara bertahap di tahun ini akan semakin mempertegas bahwa secara jangka pendek dollar akan terapresiasi.
“Jadi, minimnya sentimen rupiah terhadap laju dollar AS yang sedang dalam masa koreksi, membuat rupiah terkena dampak daripada pelemahan euro. Meski pelemahan rupiah tipis, yakni hanya turun 0,13 persen,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:














