Jakarta, Aktual.co — Beragam permasalahan lalu lintas seperti kemacetan dan kecelakaan kerap terjadi di wilayah DKI Jakarta, bukan saja pada hari-hari biasa, tetapi juga bisa terjadi di tengah-tengah perhelatan konferensi internasional di Ibu Kota.
Ambil contoh penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika pada April 2015, yang membuat warga Jakarta merasakan imbas kemacetan akibat pengaturan jalan berkaitan dengan melintasnya delegasi konferensi tersebut.
Padahal, kerugian akibat kemacetan tersebut tidak hanya membuat pengguna jalan merasa kesal, tetapi juga dapat berimbas kepada dampak kerugian ekonomi yang nilainya cukup besar.
Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Arie Setiadi Moerwanto, kerugian yang ditimbulkan akibat kemacetan di jalan raya DKI Jakarta dapat mencapai hingga Rp65 triliun per tahun yang tidak hanya dari segi ekonomis, tetapi juga terkait terganggunya psikologis masyarakat Ibu Kota.
“Data menunjukkan bahwa kerugian akibat kemacetan di Jakarta mencapai Rp65 triliun per tahun,” kata Arie Setiadi Moerwanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (22/5).
Ia memaparkan, kerugian ekonomi ini tentunya belum termasuk kerugian non-ekonomi, seperti kondisi psikologi pemakai jalan maupun efek domino lain seperti berkurangnya produktivitas masyarakat akibat kemacetan.
Arie juga menyatakan bahwa saat ini data jalan dan lalu lintas yang dimiliki oleh setiap institusi berbeda-beda, oleh karena itu perlu dilakukan penyeragaman informasi yang sinergis untuk kepentingan bersama.
Permasalahan ini menjadi isu bersama yang diakibatkan oleh berbagai hal, sebagai contoh jalan rusak, banjir karena drainase yang kurang baik, ataupun hambatan lain seperti kecelakaan lalin sehingga diperlukan koordinasi berkelanjutan di antara para pemangku kepentingan.
“Agar persoalan ini dapat diatasi dengan lebih efektif dan efisien,” ucapnya seraya dan menambahkan bahwa sinergitas data merupakan awal yang diperlukan untuk mendapatkan informasi yang akurat, sehingga ke depan dapat dilakukan langkah-langkah yang terintegrasi oleh seluruh institusi terkait.
Di tempat terpisah, Badan Kerja Sama Pembangunan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Cianjur, Karawang, dan Purwakarta atau BKSP Jabodetabekjurkarpur saat ini fokus menyelesaikan masalah banjir dan kemacetan lalu lintas.
“Banjir dan macet masih menjadi perhatian utama BKSP Jabodetabekjurkarpur, karena dua permasalahan tadi menjadi hal krusial yang dihadapi wilayah-wilayah perbatasan di tiga provinsi (Jakarta, Jabar, dan Banten),” ujar Plt Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa, di Bandung, Jumat (22/5).
Ia mengatakan, untuk mengatasi dua permasalahan tersebut beberapa waktu lalu pihaknya telah menggelar rapat koordinasi BKSP Jabodetabekjurkarpur, di Gedung Sate Bandung, yang merupakan awal dari implementasi BKSP pada 2015, sehingga pihaknya masih membahas mengenai teknis penganggarannya saja.
Pada awalnya, penganggaran program BKSP ini menggunakan dana hibah dari masing-masing provinsi. Tapi, hal ini harus direvisi karena penggunaan hibah tidak boleh berulang-ulang. “Dan sesuai ketentuan, hibah tak boleh berulang-ulang. Jadi dalam rakor ini kami mengusulkan aturan baru terkait penganggaran,” tuturnya.
Berdasarkan usulan yang mengemuka dalam rakor tersebut dinyatakan bahwa anggaran operasional kesekretariatan BKSP akan ditanggung satu provinsi secara bergantian.
Sorotan global Sementara itu, persoalan seperti kecelakaan lalu lintas sebenarnya sudah lama menjadi sorotan di tingkat global, seperti lembaga Bank Dunia.
Bank Dunia menginginkan internasional memberikan perhatian lebih guna mengatasi permasalahan kecelakaan lalu lintas yang diperkirakan mengakibatkan 1,3 juta orang di seluruh dunia meninggal setiap tahun, atau lebih dari 3.500 kematian per hari.
“Tanpa tindakan drastis dan efektif, kecelakaan lalu lintas diprediksi dapat menjadi penyebab utama nomor lima dari kematian pada 2030,” kata Wakil Presiden Bank Dunia, Keith Hansen, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (2/5).
Untuk itu, ujar dia, diperlukan target spesifik untuk membenahi keamanan jalan raya dan menyelamatkan nyawa pengguna jalan yang juga merupakan bagian dari Sasaran Pembangunan Berkelanjutan Baru yang sedang disusun.
Ia mengemukakan, kecelakaan lalu lintas, yang sebagian besar sebenarnya dapat diprediksi dan dicegah, pada saat ini menjadi penyebab utama nomor delapan dari kematian di seluruh dunia.
Dan 90 persen dari kecelakaan lalu lintas tersebut, lanjutnya, terjadi di negara-negara berkembang.
Karena itu pula, Bank Dunia juga telah memutuskan untuk bekerja sama lebih erat dengan negara-negara klien dan mitra dalam memobilisasi dan mendukung respons pemerintah yang kuat guna mengatasi tantangan keamanan jalan.
Selain itu, lembaga keuangan multilateral tersebut juga menjadi salah satu sponsor dalam Pekan Keselamatan Jalan pada 4-7 Mei mendatang guna membangkitkan kesadaran global terkait isu tersebut.
Sejumlah diskusi yang bakal dibahas dalam ajang tersebut antara lain cakupan krisis keselamatan jalan global, terutama yang berdampak kepada anak-anak.
Serta kebutuhan mendesak untuk bertindak karena keselamatan jalan berdampak kepada prospek pertumbuhan dan upaya pengentasan kemiskinan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Bank Dunia mengingatkan bahwa kecelakaan dapat mengakibatkan negara-negara kehilangan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 1-3 persen setiap tahun, atau bernilai lebih dari 500 miliar dolar AS secara global.
Selama sembilan tahun terakhir, Bank Dunia berkolaborasi dengan lembaga Fasilitas Keselamatan Jalan Global (GRSF) dan sejumlah mitra telah mengucurkan sekitar 1 miliar dolar AS untuk proyek keselamatan jalan di seluruh dunia.
Siapa saja Apalagi, persoalan kecelakaan lalu lintas memiliki sifat yang benar-benar tidak terduga terkait pelaku dan korban dalam artian siapa saja bisa mengalami hal tersebut, tidak peduli apakah dia berasal baik dari kalangan atas maupun warga menengah-bawah.
Misalnya, pada Ahad (24/5), ahli matematika terkenal dari Princeton John Nash, peraih Hadiah Nobel yang kisah hidupnya mengilhami film “A Beautiful Mind”, tewas dalam satu kecelakaan mobil bersama istrinya di New Jersey, AS.
Menurut laporan jaringan televisi ABC News, kecelakaan mobil itu terjadi pada Sabtu, ketika Nash (86) dan istrinya Alicia Nash (82) sedang melakukan perjalanan naik taksi di New Jersey Turnpike.
Berdasarkan laporan tersebut, pengemudi taksi tersebut kehilangan kendali dan mobilnya menabrak pagar pengaman.
Pemerintah lokal menduga pasangan pasangan tersebut tak memakai sabuk pengaman sebab keduanya terlempar dari taksi, kata laporan yang mengutip pernyataan Sersan Polisi Gregory Williams dari Kepolisian Negara Bagian New Jersey.
Nash merupakan peraih Hadiah Nobel 1994 untuk Bidang Ekonomi. Dia juga telah berjuang melawan paranoid schizophrenia dan kehidupannya digambarkan pada 2001 di dalam film “A Beautiful Mind”, yang meraih empat Piala Oscar.
Sedangkan di dalam negeri, kejadian kecelakaan akhir-akhir ini juga menimpa Linda Natalia Rahma (48), yang meninggal setelah menabrak pembatas jalan Tol Lingkar Luar Jakarta di daerah Bambu Apus, Jakarta Timur, Senin (25/5).
Linda itu sendiri merupakan istri dari pengamat masalah politik dan keagamaan terkemuka, Yudi Latif.
Meski masih belum diketahui secara pasti mengenai penyebab kecelakaan tersebut, namun Yudi mengakui bahwa hal itu sangat berat bagi dirinya dan keluarganya.
Agar perasaan seperti yang dialami Yudi tidak lagi dirasakan orang lain, sangat penting dan urgen bagi pemerintah dan siapa saja pihak terkait untuk benar-benar fokus mengatasi permasalahan lalu lintas, dan tidak lagi menganggap macet dan kecelakaan sebagai suatu hal yang lazim.
Artikel ini ditulis oleh:
Andy Abdul Hamid

















