Jakarta, Aktual.co — Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Nur Hidayat Sardini menjelaskan bahwa bagi kekuatan civil, Pemilu harus menjamin bahwa mereka mampu mengimbangi kekuatan negara.
Pemilu tahun 2014 mencerminkan bahwa kekuatan negara yang terwujud dalam peran KPU dan Bawaslu memiliki posisi kuat. Sementara kekuatan civil masih sangat terbatas.
“Sepanjang pemilu-pemilu di era pascareformasi, kekuatan civil makin terbatas. Saya menyaksikan empat pemilu di era pasca-Orde Baru pada jarak yang dekat. Saya aktif di kampus, membantu Forum Rektor. Tahun 2004, saya ketua Panwaslu Jawa Tengah. Tahun 2009 saya ketua Bawaslu. Dan tahun 2014 anggota DKPP. Kalau saya cermati, Pemilu Tahun 1999 kekuatan civil dalam pemantauan pemilu memiliki peran yang sangat signifikan. Bahkan mampu mengimbangi kekuatan negara,” kata dia, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/5).
Dia menggambarkan, pada Pemilu tahun 2004 kekuatan pemantau Pemilu dari masyarakat civil masih sangat terasa. Meskipun tidak gemebyar seperti Pemilu sebelumnya. Tahun 2009, keadaannya sudah terbatas.
Pasalnya, para pemantau Pemilu yang dulu berkiprah satu demi satu sudah tidak tampak. Pemilu tahun 2014, lebih terbatas dan sedikit dapat dirasakan.
“Saya kira, kita harus memikirkan soal ini. Kenapa jumlah para pemantau Pemilu makin terbatas dalam Pemilu kita dari waktu ke waktu? Padahal, sesuai pemikiran Thomas Mayer itu, kekuatan civil harus mampu menjadi penyeimbang dari kekuatan negara,” paparnya.
Kekuatan civil ini penting, agar KPU, Bawaslu dan DKPP juga harus diawasi. Salah satunya dari peran-peran yang dilakukan oleh para pemantau Pemilu sebagai bagian dari kekuatan civil.
“Misalnya JPPR. JPPR ini adalah pemantau Pemilu yang masih eksis. Satu di antara jari yang ada di sebelah tangan kita. Dan saya menyaksikan kiprah JPPR dari Pemilu ke Pemilu selama Pemilu pasca-Orde Baru. Saya mengapresiasi terhadap konsistensi JPPR dalam kiprah penyelenggaraan Pemilu di Indonesia sepanjang era reformasi ini. Bukan apa-apa karena ini menyangkut kapasitas pemilih. Pemilih kita saat ini, masih sekadar sebagai supporter, tidak sebagai voters,” katanya.
Artikel ini ditulis oleh:

















