Jakarta, Aktual.com – Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, I Gusti Nyoman Wiratmadja kembali menjanjikan perubahan acuan penetapan harga minyak (Indonesia Crude Price/ICP) diberlakukan pada akhir bulan ini.

Dia menjelaskan lambatnya kebijakan ini karena faktor adanya libur hari raya Idul Fitri, namun dia mengaku telah menyerahkan sebanyak tiga opsi kepada Menteri ESDM, Sudirman Said untuk dipilih sebagai bentuk keputusan.

“Sabar ya, kan berlaku diakhir bulan. Tunggu pak Menteri pagi ini, nanti ngobrol di migas soal ICP, saya sudah lapor 3 opsi ke pak Menteri, nanti pak Menteri yang pilih, tapi kan lebaran dulu. Kita fokus ke lebaran dulu kemarin,” kata Wirat saat ditemui pada acara Halal-bihalal Pertamina di Jakarta, Selasa (12/7).

Seperti diketahui upaya pergantian formula ICP ini karena pemerintah merasa penggunaan referensi RIM dan Plats yang dilakukan selama ini, sudah tidak sesuai dengan pekembangan  harga minyak dunia yang terus mengalami fluktuasi secara cepat.

“Kita adjust gitu. Selama ini kita tergantung referensi RIM sama Plats. Sekarang lebih banyak mengacu ke Brent. Kita lihat juga attachment-nya ke Brent dan WTI,” ujar Wirat.

Pergantian patokan ICP nantinya diharapkan agar menemukan patokan harga  yang lebih realistis dengan kondisi harga minyak sekarang serta meningkatkan daya tarik minyak Indonesia di pasaran.

“Jadi jangan sampai harga kita terlalu murah atau terlalu mahal. Kalau terlalu murah kita rugi, kalau terlalu mahal enggak ada yang beli,” tambah Wirat.

Dia menegaskan tidak mau lagi kecolongan dengan rendahnya kualitas minyak yang tidak sesuai dengan referensi. “Jangan sampai kita menggunakan referensi yang terlalu tinggi, tapi kualitas minyak kita tidak sebagus referensi itu. Nanti pada waktu jual enggak ada yang beli. Atau harga rendah, pembelinya keenakan. Dapat minyak bagus harga rendah,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Dadangsah Dapunta