Jakarta, Aktual.com – Kasus pemukulan seorang guru bernama Dasrul di Makasar Sulawesi Selatan disayangkan banyak pihak. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sendiri belum bisa memaknai pendidikan.
“Saya melihat hal ini, sebagai bentuk dari kegagalan kita dalam memaknai apa itu pendidikan. Termasuk pendidikan sendiri bisa membangun masyarakat lebih baik secara perilaku,” tegas tokoh antropolog nasional Amich Alhumami, dalam diskusi di Jakarta, Sabtu (13/8).
Padahal mestinya, kata dia, dunia pendidikan itu harus menciptakan dua hal. Pertama, berhasil membangun masyarakat yang baik dan juga mampu memfasilitasi seseorang untuk tumbuh kembang.
“Sehingga pendidikan itu tak hanya bisa memcerdaskan kognitif atau intelektual dan kecerdasan motorik, tapi juga harus bisa mencerdaskan kecerdasan afektif-nya,” tandas dia.
Apalagi dunia pendidikan sendiri, kata dia, masih menyimpan banyak masalah, salah satunya terkait pemerataan. “Pemerataan ini dalam dua hal. Bisa dari kewilayahan atau antar pulau, juga pemerataan pendapatan antara kaya dan miskin. Jadi ini semua harus bisa diselesaikan oleh pemerintah,” ungkap dia.
Cuma sayangnya, kata dia, setiap orang yang diamanati jabatan menteri pendidikan, selalu menyampaikan sesuatu yang merupakan agendanya. Sehingga pada akhirnya akan menjadi polemik di masyarakat.
Padahal anggaran pendidikan setiap tahunnya sangat tinggi. Tahun ini saja mencapai Rp419 triliun.Sekitar 52 persennya untuk gaji dan tunjangan guru.
“Tapi masalah lagi, pemerataan guru juga terselesaikan. Meski jumlahnya banyak, ada sekitar 3,9 juta. Tapi tidak sesuai kebutuhan,” ujar dia.
(Busthomi)
Artikel ini ditulis oleh:
Arbie Marwan

















