Makasar, Aktual.co — Sejumlah elemen gerakan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menolak kedatangan presiden Jokowi ke kota Makassar, Jumat (22/5) berakhir dengan pembubaran paksa dari aparat kepolisian dan anggota TNI.
Massa aksi yang bergabung dalam kelompok cipayung plus kota Makassar (HMI, PMII Makassar, PMKRI, IMM dan GMKI) saat melakukan aksi di Jalan Bawakaraeng Makassar dibubarkan paksa oleh aparat TNI.
Aktifi IMM Sulselbar, Rizal Pauzi mengungkapkan aksi yang digelarnya merupakan aksi penolakan kedatangan Jokowi sekaligus launching dan blusukan bagi – bagi kartu Indonesia Sakit (KIS).
“Ini sebagai bukti kekecewaan kami terhadap Jokowi. Apa yang dilakukan di kota Makassar hanya merupakan pencitraan untuk menutupi kebobrokan atas kepemimpinannya,” ungkapnya ke Aktual.co. Jumat (22/5).
Sementara itu, di jalan Pettarani Makassar, massa aksi yang mengatasnamakan kelompok Gerakan Aktifis Makassar (GAM) yang melakukan aksi menolak kedatangan Jokowi saat melakukan konvoi ke Flyover, Jl Urip Sumohardjo juga dibubarkan paksa oleh aparat TNI yang berada di sekitar lokasi.
Panglima GAM, Adhi Puto Palaza mengungkapkan, aksi yang dilakukannya dalam rangka menolak kedatangan Jokowi membuat 2 rekannya ditahan oleh pihak keamanan.
“Rekan kami ditahan 2 orang, sekarang diamankan di Polsek Panakkukang Makassar,” ungkapnya.
Aksi penolakan kedatangan Jokowi juga terlihat di Jl Sultan Alauddin Makassar. Massa yang tergabung dalam kelompok AMPERA (Aliansi Mahasiswa Perjuangan Rayat) berorasi sambil meneriakkan turunkan Jokowi.
Irfan Safari, yang juga aktifis HMI MPO Cabang Makassar dalam orasinya menyebutkan sudah saatnya rezim Jokowi dievaluasi yang selama ini hanya menciptakan banyak masalah baru di bangsa ini. Selain kisruh KPK-Polri yang belum berakhir, persoalan politik yang tidak jelas, semakin meningkatnya pengangguran menjadi cerminan kepemimpinan Jokowi tidak mampu lagi mengurus bangsa ini.
“Kebijakan yang tidak pro rakyat, seperti penyerahan harga BBM ke Mekanisme pasar,” teriaknya.
Selain itu, pelemahan rupiah terhadap mata uang Dollar yang menembus angka Rp13.000 lebih sebagai indikator Jokowi tidak mampu menstabilkan kondisi ekonomi.
“Jokowi adalah antek asing, neoliberalisme. Ini dilihat dari sikapnya yang membuka ruang kepada investor asing untuk menguasai segala sektor di republik ini,” ucapnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















