Jakarta, Aktual.com – Aksi Bela Islam II yang menuntut penegakan hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinilai telah diabaikan oleh Presiden Joko Widodo. Sikap abai yang dilakukan Presiden terhadap umat Islam ini sangat disayangkan.
Presiden mengabaikan gelombang massa yang jumlahnya diperkirakan tidak kurang dari 500 ribu massa bahkan patut disebut gerakan 1 juta umat Islam memenuhi beberapa titik lokasi disekitar Istana Negara, Balaikota, Bunderan Bank Indonesia dan sekitar Monas.
Demikian disampaikan tokoh yang juga inisiator Rumah Amanah Rakyat (RAR), Ferdinand Hutahaean, dalam keterangannya tertulisnya kepada Aktual.com, Minggu (6/11).
“Presiden menunjukkan sikap tidak bijaksana dan cenderung menganggab sepele gerakan umat Islam kemarin,” kata dia.
Presiden tidak seharusnya bersikap seperti itu. Semestinya Presiden memberikan perhatian serius terhadap tuntutan masyarakat luas. Yakni tuntutan penegakan hukum atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.
Bukan sebaliknya, pada hari-H Aksi Bela Islam II yang sudah lama dikabarkan, Presiden pura-pura sibuk kerja dengan memilih menjadi mandor proyek. Dalam bahasa sederhana Ferdinand, tidak seharusnya Presiden melawan realitas amarah massa dengan membangun pencitraan pura-pura meninjau proyek bandara.
Sikap Presiden tersebut, lanjutnya, telah membuat massa yang turun merasa diabaikan dan disepelekan sebagai rakyat pemilik sah republik ini dan merasa dianggap remeh. Akhirnya pecahlah kericuhan yang mengakibatkan kerugian materil dan korban luka.
“Sangat disayangkan memang kericuhan harus terjadi, padahal kericuhan tersebut sangat bisa dicegah andai Presiden bersikap lebih bijaksana dan tidak mencurigai serta berfikir negatif terhadap rakyatnya,” terangnya.
“Mengapa Presiden tidak menunjukkan empatinya atas tuntutan massa umat Islam yang meminta penegakan hukum? Mengapa Presiden justru terkesan lebih mementingkan meninjau proyek daripada menemui aksi massa yang jumlahnya sangat besar? Sungguh sikap Presiden tersebut tidak bisa diterima akal sehat,” lanjut Ferdinand.
Laporan: Soemitro
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby

















