Jakarta, Aktual.com – ‘Berani karena benar, takut karena salah’ mungkin kata ini sedang dialami oleh PT Pertamina (Persero) hingga tak bersedia melakukan transparansi atas hasil evaluasi skandal impor minyak bodong oleh trading Glencore.
Ketika ditanya kepada Rachmad Hardadi selaku Direktur Pengolahan Pertamina, dia tidak bersedia membuka hasil evaluasi terutama aspek kerugian Pertamina dari cost penanggulangan untuk pemenuhan pasokan agar pengolahan dan produksi tetap stabil tanpa gangguan.
“Wah, Itu biar ISC yang jawab. Kita belum bisa membukanya,” kata Hardadi di Gedung Pertamina Pusat Jl Medan Merdeka Jakarta, Selasa (8/11).
Namun Aktual.com sudah menghubungi Vice President ISC Pertamina, Daniel Purba, akan tetapi dia juga tidak bersedia memberi keterangan apapun mengenai hal ini.
Tak berbeda dengan Daniel, saat ditanyakan kepada Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Wianda Pusponegoro dia berdalih belum mengetahu perkembangan tindak lanjut skandal minyak oplosan tersebut.
“Saya belum tahu hasil evaluasi kasus Glencore sudah keluar apa belum. Jadi saya tidak tahu apakan Glencore disanksi. Begini, kita ISC itu bukan ngurus Glencore aja, banyak yang diurus,” ujar Wianda
Terkait hal ini publik menunggu tindakan transparansi sebagai mana yang digembar gemborkan perusahaan BUMN itu. Terang saja publik terus memantau karena kasus ini mengingatkan pada skandal lainnya yang dulu menggegerkan, yakni kasus zatapi.
Dalam kasus ini, Glencore sebagai mitra Pertamina untuk pengadaan minyak, dia mengirim minyak oplosan yang tidak sesuai dengan komposisi pesanan lelang.
Minyak yang berasal dari negara Libya itu seharusnya memiliki kandungan komposisi 70% Sarir dan 30% Mesla, namun yang datang malah sebaliknya 30% Sarir dan 70% Mesla.
Namun seperti yang disampaikan diawal, Pertamina terkesan menutup-nutupi hasil evaluasi serta oknum oknum yang harus bertanggungjawab atas insiden yang telah merugikan Pertamina.
Dadangsah Dapunta
Artikel ini ditulis oleh:
Dadangsah Dapunta

















