Aktifitas jual beli di Pasar Tebet, Jakarta, Senin (3/10). Badan Pusat Statistik merilis dari kelompok pengeluaran, bagan makanan mengalami deflasi sebesar 0,07% dengan andil dalam inflasi September 2016 sebesar -0,01%. Aktual/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Sektor perdagangan yang selama ini melaju kencang ternyata sejak Hari Raya Idul Fitri lalu mengalami pelemahan yang luar biasa. Sehingga sampai akhir tahun, kendati ada natal dan tahun tetap tak akan menolong.

Untuk itu, pemerintah diminta jangan membuat kebijakan yang bakal mengganggu sektor perdagangan dan konsumsi domestik. Sebab pertumbuhan ekonomi tetap akan tinggi jika konsumsi domestik tetap meninggi.

“Selama ini, domestic consumption justru memiliki kontribusi yang terbesar terhadap pertumbuhan. Saat ini, mencapai 57 persen kontribusinya. Jika drop 10 persen saja, maka pertumbuhan ekonomi akan langsung jatuh,” ucap Direktur Eksekutif The Nielsen Indonesia, Yongki Surya Susilo, di Jakarta, Minggu (25/12).

Untuk itu, kata Yongki, pihaknya meminta kebijakan dari pemerintah jangan terlalu mengotak-atik sektor perdagangan.

“Karena kalau konsumsi domestik jatuh, maka ekonomi otomatis jatuh. Sehingga jika mau ada (kebijakan) ekspor, jangan sampai ganggu perdagangan,” cetusnya.

Menurut Yongki, kondisi perdagangan dan juga konsumsi domestik terus mengalami penurunan di kuartal III-2016 ini. Bahkan jika berdasar data di tiga bulan ketiga di tahun ini, bahwa data konsumsi dianggap tinggi, dirinya pun agak menyangsikan.

Memang berdasar data, dengan laju pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2016 sebesar 5,02 persen, ternyata domestic consumption sebesar 5,0 persen.

“Tapi saya ragu apa betul 5,0 persen? Padahal yang terjadi di triwulan 3 itu pasca lebaran faktanya perdagangan kita luar biasa parah. (Kondisi) perdagangan di Q3 itu susahnya setengah mati,” jelas dia.

Menurutnya, setelah pihaknya melakukan survey terhadap barang-barang kebutuhan sehari-hari baik di toko tradisional maupun toko modern ternyata mengalami penurun.

Padahal, kata dia, barang ini jadi barometer. “Kalau barang itu saja terkena, prinsipnya sektor lain sudah pasti terkena penurunan. Ini aneh growth di Triwulan III itu makin lama makin turun. Bahkan volume naik, tapi nominalnya juga malah turun. Jadi dagang apa saja parah,” keluh dia.

Toko tradisional, kata dia, angka pertumbuhan yang normal itu bisa sampai 10-11 persen seperti tahun lalu. Tapi faktanya, sampai semester I-2016 hanya bertumbuh 8-9 persen. Dan setelah Hari Raya Idul Fitri semakin menurun.

“Pasca lebaran habis juga. Sampai akhir tahun itu mustinya naik juga, bisa dibantu adanya natal dan tahun baru, tapi di Desember ini saja sudah parah dan terus turun,” kata Yongki.

Untuk toko modern seperti mini market juga mengalami hal yang serupa. Kata dia, angka pertumbuhan toko modern yang normal itu sebesar 15-17 persen. Tahun lalu mencapai 10 persen.

“Tapi tahun ini ternyata lebih rendah lagi. Saya kira akan lebih tinggi, ternyata cuma 8,8 persen. Padahal pertumbuhan tokonya antara 11-13 persen. Pasca lebaran makin anjlok,” jelas dia lagi.

Untuk itu, dia berharap ada kebijakan yang tepat dari pemerintah agar laju perdaganagn bisa semakin bertumbuh positif.

“Harapan saya triwulan IV bisa lebih bagus. Karena hal ini untuk set di Triwulan I-2017. Tapi nyatanya begini (melemah). Kalau begini terus akan bahaya,” pungkasnya.

(Busthomi)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka