Jakarta, Aktual.Com-Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah menilai tantangan pengelolaan inflasi 2017 lebih berat ketimbang dengan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan harga barang pangan diprediksi yang bergejolak pada tahun lalu kini bakal merembet ke tahun ini, juga diiringi oleh ketidakpastian penurunan kembali harga barang yang diatur pemerintah (administered prices).
“Tapi inflasi kita turun [tahun lalu] terutama karena administered prices rendah, bahkan dalam beberapa bulan negatif. Nah, justru tahun ini yang sedikit lebih berat karena sebenarnya tahun lalu itu pangan masih tetap bergejolak harganya, volatilitasnya masih belum turun,” ucap Darmin Nasution di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/1/2017).
Sementara Badan Pusat Statistik menyebutkan jika inflasi pada bulan Desember 2016 mencapai 0,42% sehingga dikatakan jika inflasi untuk keseluruhan tahun 2016 menyentuh level yang cukup rendah, 3,02%. Secara tahunan, volatile food seperti cabai dan bawang merah masih menjadi momok dan determinan.
Darmin mengatakan arah kebijakan pemerintah tahun 2017 untuk administered prices seperti listrik dan BBM tengah dirumuskan dan memiliki kemungkinan cukup besar untuk bergerak, baik naik maupun turun. Kombinasi kedua hal ini, lanjutnya, membuat tekanan inflasi tahun ini lebih besar.
Tetapi Darmin menegaskan jika Pemerintah tetap optimistis inflasi masih berada dalam rentang target yang disepakati bersama oleh Bank Indonesia dan Parlemen yakni 3%-5%.
Kini, sambung dia, pemerintah sedang membahas mengenai opsi-opsi kebijakan pangan untuk pengendalian volatile food dan sejumlah administered prices.
“Sehingga, begitu digabung, kalau pun (inflasi tahun 2017) lebih tinggi, ya tidak banyak-banyak dibanding tahun lalu. Tapi untuk sama dengan tahun lalu, berat. Kita akan berusaha supaya nggak keluar dari range yang disepakati pemerintah dan BI,” pungkas Darmin.
Artikel ini ditulis oleh:
Bawaan Situs

















