Jakarta, Aktual.co — Mantan Ketua Tim Reformasi dan Tata Kelola Migas (RTKM), Faisal Basri menilai bahwa sangat beresiko dalam membangun kilang baru dalam peningkatan kapasistas kilang lama. Hal itu terkait dengan persoalan ketahanan energi cadangan minyak nasional tersebut.
Faisal pun lebih menyarankan nasional mengimpor langsung dengan membangun storage atau tangki cadangan BBM yang banyak.
“Kalau bangun kilang sekarang berbahaya. Karena Pertamina bilang, akan bangun kilang stand alone (sendiri) yang marginnya kecil. Kilang itu harus terintegrasi dengan industri petrokimia. Ada olefin, ada aromatik, kemudian ada macam-macam turunannya yang menghasilkan produk petrokimia yang ke industri plastik sampai parasetamol,” ucap Faisal, di Komplek Parlemen, ditulis Kamis (21/5).
“Jadi kalau stand alone, lupakan deh. Cuma buang-buang uang,” tambah dia.
Disisi lain, kata Faisal, pembangunan kilang memang menguntungkan bagi Pertamina, namun tetap harus berintegritas dengan industri petrokimia. Sebab, jika pembangunan kilang secara sendiri, tidak sedikit kocek yang dikeluarkan. Bayangkan, mantan Gubernur DKI Jakarta dari jalur independen itu bahwa proyek pembangunan kilang minyak baru di Bontang, Kalimantan Timur saja memakan biaya hingga Rp 108 triliun.
“Dikaitkan dengan kedaulatan atau kemandirian minyak juga tidak terkait dengan kilang. Kita punya kilang, lalu satu kilang kita mati, kalau tidak punya storage, tidak punya cadangan kita lebih bahaya tidak punya storage daripada tidak punya kilang. Kalau kita punya storage, kita bisa beli banyak-banyak pada saat harga murah. Waktu harga mahal kita nggak beli dulu,” tukas dia.
Artikel ini ditulis oleh:
Novrizal Sikumbang
Eka

















