Jakarta, Aktual.co — Ketua Tim Peneliti ‘Engine Control Unit (ECU)’ ITS Surabaya Dr Muhammad Nur Yuniarto menilai bahan bakar baru jenis Petralite yang digagas pemerintah merupakan jalan tengah untuk rakyat.
“Itu (Petralite) jalan tengah untuk rakyat, karena kalau rakyat pakai Pertamax, harganya terlalu mahal, tapi premium mau dicabut. Apalagi Premium bisa membuat mesin ‘ngelitik’ (cepat rusak),” katanya di Surabaya, Kamis (21/5).
Menurut Kepala Laboratorium Sistem dan Otomasi Industri, Jurusan Teknik Mesin, ITS Surabaya itu, Petralite lebih baik daripada Premium, karena Petralite memiliki oktan 90, sedang Premium dengan oktan 88.
“Dengan oktan yang lebih tinggi itu, maka efek dari Petralite pada mesin kendaraan akan menjadi lebih baik, sehingga masyarakat akan memiliki pilihan jika Premium ditiadakan,” katanya.
Namun, katanya, rakyat tetap memerlukan subsidi BBM, karena itu Petralite akan menjadi pilihan bagi rakyat, sebab Pertamax masih terlalu mahal bagi rakyat, sedangkan rakyat bisa menyesuaikan dengan Petralite.
“Yang penting adalah pemerintah memikirkan sustainability (kesinambungan) bahan baku dari Petralite jika Premium nantinya tidak ada lagi. Jangan seperti gas yang tidak sustainability, sehingga kita harus impor,” katanya.
Lebih dari itu, kata dosen yang juga koordinator tim peneliti “IQUtech-e” itu, hal terpenting adalah pemerintah juga meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga rakyat memiliki kemampuan untuk membeli bahan bakar jenis apapun.
Pemikiran agak berbeda dikemukakan tokoh PII Prof Ir Daniel M Rosyid PhD MRINA. “Perlu paradigma baru dalam bidang energi dengan mengubah cara berpikir yang fokus pada pasokan energi fosil,” katanya.
Menurut dia, cara berpikir yang fokus pada energi fosil jenis apapun akan terus menyebabkan kekurangan energi. “Karena itu perlu dipikirkan energi alternatif yakni nuklir atau energi terbarukan yang juga dipakai banyak negara,” katanya.
Selain perubahan paradigma energi, paradigma di bidang transportasi juga perlu diubah yakni dari transportasi individual menjadi transportasi publik, semisal bus listrik atau kereta listrik, bukan mobil listrik, karena motor atau mobil akan justru ‘membunuh’ kota-kota dengan kemacetan, polusi, dan boros energi.
“Coba bayangkan, di Surabaya saja setiap hari ada 100 mobil baru dan 1.200 motor baru yang menyebabkan ibu kota Provinsi Jatim tersebut kehilangan dua lapangan sepak bola dalam setiap bulan, karena transportasi publik dan transportasi sungai, laut, serta udara perlu dilaksanakan,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh: