Jakarta, Aktual.co —Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI dengan tim reformasi tata kelola Migas Kementerian ESDM diwarnai interupsi.
Awalnya, Faisal Basri selaku pimpinan tim, menyampaikan laporan atas kinerjanya selama ini dalam rapat yang dimulai pukul 19.30 Wib tadi.
Namun belum selesai sampaikan laporan, penjelasan Faisal langsung dipotong interupsi dari Anggota Fraksi Gerindra Ramson Siagian. Beralasan waktu terbatas, dia meminta Faisal langsung saja membeberkan temuan-temuan praktis dari timnya terkait jaringan mafia migas.
“Baik di sektor hulu dan hilir. Kalau pun cukup waktu kita diskusi untuk menjadi referensi RUU, karena kita sebagai pengawas tim yang dipimpin pak Faisal Basri,” kata Ramson, di Ruang Komisi VII DPR RI, Senayan, Rabu (20/5).
Permintaan Ramson disetujui Ketua Pimpinan Rapat Muljadi. Laporan Faisal atas kinerja tim reformasi tata kelola migas pun dimintanya langsung masuk kepada rekomendasi dan kesimpulan.
Kata dia, dewan ingin mengetahui tentang isu utama saat ini. Yakni masalah pembubaran Petral dan praktek mafia migas. “Kalaupun belum ada data yang bersifat kongkrit mungkin minimal analisanya lah. Itu yang diinginkan para anggota dewan,” ucap Mudjadi.
Mendapat permintaan seperti itu, Faisal berdalih kalau timnya dilahirkan bukan untuk memberantas mafia migas.
“Namanya tim reformasi tata kelola migas, bukan tim anti mafia migas. Tugas kami bukan memberantas mafia migas. Oleh karena itu dalam laporan ini memperkokoh sektor migas Indonesia, kalau kelembagaannya itu beres maka mafianya tidak akan berkutik,” seru dia.
Dalam pantauan aktual.co, di Komisi VII DPR, akhirnya Faisal Basri menlanjutkan dengan kesepakatan anggota dewan, jika dirinya menyampaikan rekomendasi dan kesimpulannya saja. Dan saat ini, sedang dilakukan tanya jawab antara anggota dengan tim bentukan Kementerian ESDM tersebut.
Artikel ini ditulis oleh:
Novrizal Sikumbang

















