Jakarta, Aktual.com – Angka backlog atau kekurangan hunian yang menunjukkan kekurangan terhadap ketersediaan rumah di Indonesia saat ini mencapai 13,8 juta unit. Penerapan teknologi properti murah dinilai dapat mengurangi angka backlog.
Seperti halnya dengan teknologi kayu olahan sistem knockdown alias rakit tahan rayap, tahan api, karena mampu dibangun dengan cepat, juga harga lebih murah sekaligus ramah lingkungan.
Arsitek Senior dan Pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Joga mengatakan, adopsi penerapan teknologi properti murah, perlu terus digencarkan edukasi ke publik.
Kata dia, terdapat tiga pihak yang bertanggungjawab dalam mendukung penerapan adopsi teknologi kayu ramah lingkungan. Mereka adalah pemerintah daerah, pengembang dan arsitek.
Ketiganya, kata Nirwono, harus mengangkat kembali dan membangun rasa bangga terhadap arsitektur lokal yang melihat sejarahnya merupakan rumah berbahan bangunan lokal ramah lingkungan, termasuk disini kayu, bambu, batu kali.
“Pemda harus siapkan perda yang mewajibkan mengangkat arsitektur lokal dan berbahan ramah lingkungan, pengembang dan arsitek wajib mengikutinya, kalau tidak pemda tidak memberikan IMB,” kata Nirwono dalam siaran persnya, Rabu (20/9).
Artikel ini ditulis oleh:
Antara
Wisnu















