Relawan asal Amerika Janice Girardi dibawah bendera Bali Animal Welfare Association (BAWA) memberi makan pada anjing yang ditinggal pemiliknya mengungsi karena aktifitas Gunung Agung pada level awas di kawasan Besakih, Karangasem, Bali, Rabu (4/10). Warga dari 28 desa di lereng Gunung Agung yaitu kawasan rawan bencana, masih berada di pengungsian meskipun erupsi belum terjadi namun aktifitas vulkanik gunung tersebut masih berbahaya. AKTUAL/Tino Oktaviano

Denpasar, Aktual.com – Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita menuturkan jika penanganan bencana Gunung Agung sangat luar biasa mencuri perhatian dunia internasional. Katanya, dunia mengakui bagaimana penanganan bencana Gunung Agung berjalan cukup baik. Semua pihak bekerja sigap dan di rel yang benar meminimalisasi jatuhnya korban. Tak hanya manusia, bahkan harta benda dan hewan ternak milik warga pun dipikirkan dengan baik.

“Luar biasa, ‎diakui di dunia bahwa bagaimana masyarakat Bali, pemerintah Bali bersama-sama. Banyak pengungsi di Karangasem, Wali Kota Denpasar peduli, Bupati Klungkung peduli. Kepedulian masyarakat luar biasa. Ini diakui dunia,” kata Enggartiasto di sela kunjungan kerjanya di Denpasar, Jumat (6/10).

Menurutnya, penanggulangan bencana Gunung Agung dijadikan percontohan bagi negara lainnya. ‎”Penanganan bencana Gunung Agung dilihat menjadi satu contoh, dibandingkan dengan berbagai tempat lain,” katanya.

Sebelumnya, Gubernur Bali, Made Mangku Pastika ‎mengajak semua warga dari daerah lain untuk bahu membahu membantu pengungsi dari Kabupaten Karangasem yang terdampak masuk dalam zona bahaya gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl tersebut.

“Ini adalah saudara dia. Tolong disampaikan inilah nyama, saudara, bukan tamu, saudara sedang dalam kesusahan tolong dibantu. Ini kesempatan kita berbuat baik dengan saudara sendiri,” tutur Pastika.

Pujian juga pernah dilayangkan ‎Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho‎.

Ia kagum bagaimana masyarakat Bali membuka diri terhadap pengungsi. Dalam istilahnya, hal tersebut adalah sister city. “Bantuan masyarakat dan semua elemen di Bali luar biasa. Semua bergerak. Karakter masyarakat Bali yang suka gotong royong, saling menghargai, senang membantu dan rukun menyebabkan penanganan pengungsi berlangsung dengan lancar,” ulas dia.

Sutopo melanjutkan, ‎antara masyarakat dan aparat pemerintah kompak membuat pengungsi terlayani dengan baik. “Ini adalah modal sosial yang besar yang membentuk masyarakat Bali tangguh menghadapi bencana,” tutur Sutopo.

Memang, sejak dulu masyarakat Bali memiliki kearifan lokal menyama braya. Menyama Braya adalah konsep ideal hidup bermasyarakat di Bali sebagai filosofi dari karma margayang bersumber dari sistem nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Bali untuk dapat hidup rukun.

Kerukunan mengandung makna akrab, damai dan tidak berseteru, diibaratkan pada kehidupan sepasang suami istri dalam rumah tangga yang harmonis dan damai dalam menghormati kearifan lokal sebagai landasan strategis mewujudkan makna menyama braya sebagai penguatan jati diri bangsa. Manusia itu tidak hidup sendiri di dunia ini, tetapi dilindungi oleh komunitasnya, masyarakatnya, dan alam semesta sekitarnya.

Manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesama umat manusia. “Karena itu ia selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik, terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa; dan selalu berusaha untuk sedapat mungkin bekerjasama dalam komunitas. Itulah yang tercermin di Bali meski Gunung Agung status awas,” demikian Sutopo.

Pewarta : Bobby Andalan

Artikel ini ditulis oleh:

Bawaan Situs