Jakarta, Aktual.co — Persiapan Muktamar Nahdhatul Ulama (NU) ke-33 di Jombang, Jawa Timur, terus dilakukan panitia. Namun, ditengah persiapan itu masih ada beberapa pertanyaan yang dilayangkan pengurus wilayah.
Salah satu pertanyaan menyangkut lokasi dan proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) atau Tanfidziyah.
Padahal, banyak lokasi di kota-kota besar lain di Indonesia layak menjadi tempat Muktamat. Diantaranya, Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Utara.
Hal itu dipertanyakan pengurus PCNU dari DKI Jakarta, KH Ahmad Zahari, dalam diskusi mengenai ‘NU dan Indonesia: Tantangan ke Depan Perkembangan Umat dan Bangsa’ di Jakarta, Selasa (19/5).
Selain lokasi, gelaran Muktamar juga disebut-sebut mulai mengalami pergeseran. Dimana para kiai sejak awal sudah berani mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Tanfidziyah, hal yang jauh dengan tradisi yang selama ini berkembang di NU.
“Sejak (Muktamar) Solo, mulai ada calon yang turun kebawah yang menggerakkan untuk memilih, NU sudah begini seperti partai,” kata pengurus PCNU Cilegon.
Bahkan, bukan hanya calon ketua tanfidziyah, melainkan juga calon Rois Aam. Kegiatan yang dinilai cukup mengkhawatirkan, sebab sebelumnya tidak ada dan sudah selayaknya tidak mencalonkan diri.
Artikel ini ditulis oleh:

















