Jakarta, Aktual.co — Tim ekonom DBS Bank menilai dengan rencana akselerasi pemerintah dalam merealisasikan proyek-proyek infrastruktur, defisit transaksi berjalan akan meningkat hingga ke level yang stagnan dengan beberapa tahun terakhir.
Laporan tim ekonom DBS Bank untuk Asia Tenggara dan India periode Mei yang diperoleh di Jakarta, Selasa (19/5), menyebutkan defisit neraca transaksi berjalan diprediksikan masih bertahan di kisaran tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto pada akhir 2015 atau sekitar 26 miliar dolar AS.
“Defisit transaksi berjalan yang tampaknya akan stabil adalah di angka sekitar 2 persen dari PDB, namun kami memiliki ekspektasi bahwa di akhir tahun angka ini akan mendekati 3 persen dari PDB,” ujar tim DBS yang berbasis di Singapura.
DBS mengapresiasi kinerja transaksi berjalan yang memberikan sinyal positif pada triwulan I 2015 dengan penurunan defisit 0,8 persen dibanding triwulan IV 2014 atau menjadi 3,8 miliar dolar AS dari 5,7 miliar dolar AS.
Namun DBS menilai agresivitas dalam memacu pertumbuhan di tiga triwulan mendatang akan mendorong penarikan pembiayaan asing.
Lazimnya, dengan akselerasi pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur, transaksi impor barang modal dan bahan baku/penolong akan meningkat.
Sementara, DBS juga menyoroti pembiayaan asing atau utang luar negeri yang diperkirakan juga akan meningkat pada beberapa triwulan mendatang untuk memenuhi kebutuhan pembangunan oleh swasta dan pemerintah.
Pada akhir triwulan I 2015, utang luar negeri tumbuh sebesar 7.6 persen atau sebesar 298,1 miliar dolar AS. Jumlah tersebut menunjukkan pelambatan jika dibanding periode sama di 2014 yang pertumbuhannya mencapai 10,2 persen.
“Kekhawatiran terkait pembiayaan asing sudah menurun, namun tidak benar-benar hilang,” demikian laporan DBS.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















