Jakarta, Aktual.com-Sebagai anak bangsa yang jiwa raga ini dibangun dari kandungan MARHAEN, maka tidaklah berlebihan kalau ada sebuah ekspektasi dalam Pilgub Jatim BANTENG MONCONG PUTIH harus sebagai Pemenangnya.

Harapan itu tidaklah berlebihan dan bukan sebuah  kontemplasi, namun dalam konsep berbagai metodologi dapat di relaisasikan karena Pendekatan yang dilakukan jelas pada realitas basis konstitien yang ajeg dan militan.

Berbagai euforia yang berhubungan dengan sebutan POPULARITAS, ELEKTABILITAS selalu mengemuka dan menjadi image bahkan stigma, seakan figur yang hasil survey dengan indikator tingkat popularitas dan elektabilitas mempunyai prosentase paling atas, dapat dipastikan alan menjadi pemenang salam PILGUB atau pilkada yang   lain.

Persoalan image, stigma dan indikator dalam hasil survey  masih menyisakan  sebuah diskusi dan perdebatan panjang.

Bahkan banyak yang mengatakan bahwa itu hanya sebuah justifikasi atao metodologi survey yang kurang sempurna akibat adanya BIAS dalam pengambilan sampling.
Sehingga antara image,stigma atas hasil survey dengan indikator polulariras, elektabilitas telah  terbantahkan dengan tersenggaranya  Pemilihan Presiden dan Pemilihan Gubernur DKI dan masih banyak lagi dari hasil  riil pemilihan yang telah dilaksanakan yang hasilnya sangat tidak ada relasinta dengan survey, sehingga ada benarnya bahwa  itu hanya sebagai justifikasi belaka.

Terlepas dari problematika  tersebut, kembali pada persoalan pilgub Jatim,  bahwa PDIP bersama PKB kalo tidak sebagai  Partai Yang Mendeklarasikan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang mendahuli dari Partai Yang Lain.
Dalam mencermati pencalonan ini dapat dipersepsi bahwa Calon Gubernur dan Wakil Gubernur mempunyai tingkat indikator POPULARITAS dan ELEKTABILITAS tertinggi dalam Prosentasenya,sehingga  GUS IPUL langsung diusung PKB dan Azwar Anas diusung PDIP.

Sebagai Partai yang taat, patuh dan  menjunjung tinggi AD-ART sebagai konstitusi Partai , maka segala bentuk keputusan politik secara serentak oleh  kedua partai langsung  dilaksanakan   konsolidasi dlsb, hingga melakukan pembentukan Tim Pemenangan dan  berbagai simulasi, mulai  pemasangan Gambar dan stiker GUS IPUL dan AZWAR ANAS.

Walaupun sejatinya dan sejujurnya dinamika dlm struktur partai dan para simpatisan atau entitas yang menaruh besar kedua Partai ini ber variatif dalam menyikapi.

Mencermati Pilgub Jatim, bahwa tidak serta merta popularitas dan elektabilitas dijadikan indikator sebuah proses pemenangan.

Secara politis Satu hal yang perlu dcermati dan dipahami bahwa Pilgub/wagub(  Selain Pilgub DKI,),  adalah sebuah proses pemilihan  dimana CALON GUB/WAGUB secara politis harus dapat bersinergi dengan para bupati/walikota seJatim.

Disini nampak bahwa korelasi  POPULARITAS dan ELEKTABILITAS atas hasil survey bagi CALON GUB/WAGUB bukan sebuah JAMINAN yang sempurna dalam keputusan politik,   melainkan bagaimana secara politis CALON GUB/WAGUB tersebut secara sinergi sudah  ter uji dalam ber interaksi dan ber adaptasi dengan para bupati dan walikota di Jatim.
Ilustrasinya “Keberhasilan seorang bupati/walikota atau birokrat dalam memimpin daerahnya belum tentu dapat diterima bahkan belum tentu disukai  oleh bupati/ walikota yang lainya ( di jatim)”. Disinilah seharusnya Partai Mempertimbangkan Keputusan Politiknya dalam menentukan Pencalonan.

Mencermati mundurnya Azwar Anas sebagai WAGUB yang dicalonkan  PDIP, konstelasi POLITIK PILGUB/WAGUB JATIM berubah Total.

Berbagai spekulasi dan asumsi politik beradu dalam sebuah ranah  diskusi ataupun bisa politisasi, sehingga suasana PILGUB/WAGUB Jatim yang adem ayem, kini menggeliat dan cenderung suhu politik naik mengarah pada suasana panas.

Berbagai pernyataan terjadi  saling klaim atas adanya kampanye hitam dari para elite partai hingga para kader masing2 partai setiap saat dapat dibaca dalam berbagai media.

Begitu cepat nya eskalasi politik dalam pilgub Jatim, PDIP tidak boleh terlalu larut dalam menyikapi mundurnya CAWAGUB yang diusung, karena situasi  seperti ini yang dibutuhkan adalah sebuah tindakan substansi  akselerasi politik untuk mengisi Space yang hampa.

Jikalau mencermati KONTESTASI, KONSTELASI politik di JATIM pada  pokok persoalan PilGub/WAGUB jatim, PDIP tidak perlu terlalu gugup, galau karena  berdasarkan pada basis konstituen yang militan, solit dan konsekwen atas segala  keputusan Partai, maka sudah  saatnya PDIP MENCALONKAN KADER nya SENDIRI yang lahir dan dibesarkan  serta ter uji INTEGRITAS, LOYALITAS  dan  IDEOLOGIS terhadap  PARTAI sebagai IBU KANDUNG nya, maka argumentasi secara metodologis dapat diuji terhadap  obyektif,realistis dan tidak akan terjadi BIAS.

Tidak ada alasan bahwa pencalonan GUBERNUR/WAGUB yang hanya bersandar tentang POPULARITAS, ELEKTABILITAS sebagai Satu satunya Indikator PENCALONAN.

Paradigma itu di JATIM harus di tanggalkan dibuang hauh,  PDIP harus secara riil melihat KADER yang sudah ber interaksi,  ber adaptasi, sinergi secara integrasi dengan para bupati dan walikota di JATIM, seta aktif komunikasi lintas Partai.

Alasan pokok dan kunci kenapa PilGub Jatim secara politis  harus berhitung dan bersinergi  dengan para bupati dan Walikota, karena secara riil para bupati dan walikota sebagai representasi  politik baik struktural,cultural di terotorialnya.

Oleh karenanya, sekali lagi sudah seharusnya PDIP tidak RAGU RAGU dan  harus Berani untuk menetapkan keputusan politik terhadap CALON GUB/wagub  JATIM dari KADER PARTAI yang sudah TERUJI.

Penulis : Dr. Sri Setiaji
Wakil Sekjen Keluarga Besar Marhaenis
Pengamat / Dosen Untag Surabaya

Artikel ini ditulis oleh:

Bawaan Situs