Jakarta, Aktual.co — Laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini masih berada di tren pelemahan. Setelah melemah 0,42% ke level Rp13.139 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (18/5) kemarin, Rupiah pagi ini, Selasa (19/5) kembali dibuka melemah 0,24% ke posisi Rp13.170 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg Dollar Index, mata uang Garuda bahkan terus bergerak negatif ke level Rp13.175.
Laju Rupiah berbalik melemah diawal pekan setelah bergerak variatif diakhir pekan. Harapan akan berkanjutnya kenaikan pun menjadi sirna dengan adanya pembalikan arah tersebut.
“Padahal laju dolar AS sempat melemah seiring kembali melonjaknya harga minyak mentah dunia, namun berbalik naik setelah sejumlah Kepala The Fed di berbagai negara mengatakan kemungkinan kenaikan Fed rate pada Juni 2015,” ujar Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.
Pada Selasa (19/5) laju Rupiah diprediksi Reza berada di bawah target level support 13.100, yaitu Rp13.125-13.110 (kurs tengah BI). Menurutnya, adanya sentimen dari The Fed membuat Rupiah terimbas melemah dan dikhawatirkan akan terjadi penurunan lanjutan.
“Tetap mewaspadai potensi penurunan lanjutan dan tetap cermati sentimen-sentimen yang ada,” pungkasnya.
Sementara itu, Samuel Sekuritas Indonesia dalam risetnya mengemukakan nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini akan dipengaruhi sentimen penyelesaian masalah utang Yunani dan rilis BI Rate. “Kembalinya masalah di Yunani berpeluang kembali menekan rupiah pada hari ini,” kata Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta dalam risetnya yang diterima hari ini, Selasa (19/5).
Dikemukakan indeks dolar naik tajam, walaupun belum ada data ekonomi AS yang baik diumumkan. Kembalinya kekhawatiran atas nasib Yunani yang bisa berujung pada ke luarnya Yunani dari Zona Euro, ujarnya, mendorong Yield obligasi Yunani tenor 10 tahun naik hingga 26 Bps malam tadi. Bersamaan dengan euro yang jatuh 1,1%.
Rangga mengatakan rupiah kembali tertekan hingga kemarin sore, bersamaan dengan mata uang lain di Asia. Lebih lanjut dikatakan dia, kembalinya penguatan indeks dolar telah menekan mata uang di dunia serta berbagai aset keuangan lainnya.
Rupiah, ujar dia, juga akan merespon pengumuman BI Rate hari ini yang diperkirakan tetap di 7,5%. “Pemangkasan BI Rate yang bukan tidak mungkin dilakukan oleh BI, dapat menambah tekanan terhadap rupiah, di tengah penguatan dolar di pasar global,” kata Rangga.
Artikel ini ditulis oleh:

















