Jakarta, Aktual.co — Vice President Research and Development Direktorat Pengolahan, PT Pertamina (Persero) Eko Wahyu Laksono mengungkapkan bahwa di negara maju pengembangan energi baru terbarukan didukung penuh oleh Pemerintah meski membutuhkan biaya yang besar.
“Bagi negara maju, seberapapun biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan energi baru terbarukan tidak diperhitungkan karena teknologi tersebut terbukti ramah lingkungan. Negara maju tidak melihat harga,” kata Eko Wahyu di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin (18/5).
Ia menceritakan, Brazil telah melakukan pencampuran ethanol dengan BBM, padahal penggunaaan ethanol untuk BBM bersaing dengan makanan sehingga harganya menjadi mahal, namun Pemerintah Brazil berani mensubsidi ethanol, sehingga harganya menjadi murah.
“Jadi berapaun harganya EBT akan laku, disamping riset terus menerus bagaimana mengurangi cost,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengembangan energi baru terbarukan penting untuk dilakukan mengingat energi fosil terus mengalami penurunan, selain itu energi baru terbarukan tidak membuat kerusakan lingkungan, karena tidak menyisakan emisi.
“Energi fosil menurun penyumbang kerusakan lingkungan lambat laun digantikan energi baru terbarukan,” tegas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pertamina tengah menyiapkan tiga bahan bakar terbaru yang ramah lingkungan yang siap menggantikan peran bahan bakar jenis fosil, seperti minyak dan gas (Migas). Tiga energi baru terbarukan (EBT) tersebut adalah Hydrotreated Biodiesel, Solar Emulsi, dan Minyak Algae.
Meski begitu, Vice President Research and Development Direktorat Pengolahan Pertamina mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu restu dari Pemerintah untuk memproduksi energi baru terbarukan tersebut.
“Kami masih menunggu support dari pemerintah dan perusahaan. Karena saya tadi sampaikan bahwa kehidupan riset ini masih kurang mendapat tempat yang layak. Artinya riset itu kita masih anggap sebagai pemborosan,” ungkap dia.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka

















