Bangkok, Aktual.com – Pemerintah Thailand menyalahkan penyelenggara wisata China atas meninggalnya lebih dari 40 orang dalam kecelakaan kapal di sebuah pulau wisata pada akhir pekan lalu.
Dari seluruh korban itu, sebagian besar korban merupakan pelancong dari China. Sementara, 11 orang masih hilang dan dicari penyelam hingga kini.
Wakil Perdana Menteri Prawit Wongsuwan menyalahkan penyelenggara tur China karena tidak menghormati peraturan keamanan Thailand.
“Beberapa orang China menggunakan orang berwenang Thailand untuk membawa turis China, mereka tidak memperhatikan peringatan, itulah mengapa insiden ini terjadi. Ini perlu diperbaiki,” kata Prawit sebagaimana dilansir Antara pada Senin (9/7).
Kapal Phoenix tenggelam pada Kamis (5/7) lalu di lepas pantai barat pulau Phuket dengan 101 orang di dalamnya, termasuk 89 wisatawan, semua kecuali dua dari mereka berasal dari China, dan 12 awak, dalam perjalanan ke pulau kecil untuk snorkeling.
Jumlah korban tewas, yang kemungkinan melampaui 50, membuatnya menjadi bencana paling besar terkait dengan pariwisata di Thailand dalam beberapa tahun dan menegaskan kekhawatiran lama tentang keamanannya.
Musim hujan membawa badai ganas di laut lepas di Thailand selatan, terutama di lepas pantai barat, dan pertanyaan diungkit tentang mengapa perahu itu berangkat ke laut meskipun ada peringatan cuaca buruk.
Sementara, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata China mengeluarkan surat edaran mendesak pada hari Sabtu (7/7), menekankan pentingnya meneliti perusahaan perjalanan dalam jaringan saat memesan perjalanan ke luar negeri.
Banyak dari mereka yang berada di Phoenix telah memesan perjalanan secara mandiri melalui penyelenggara tur dalam jaringan, kata kementerian itu.
Sebelumnya, pihak berwenang mengatakan kapal itu membawa 105 orang. Mereka kemudian merevisi angka yang mengatakan bahwa beberapa dari mereka yang dipesan tidak ikut tamasya.
“Secara resmi, 11 orang masih hilang,” kata Gubernur Provinsi Phuket Noraphat Plodthong pada jumpa pers.
“Kami akan melanjutkan pencarian hari ini,” tambhanya.
Kementerian Pariwisata Thailand mengatakan akan memberikan 1 juta baht (30.202 dolar AS) sebagai kompensasi untuk setiap keluarga korban.
Pariwisata menyumbang sekitar 12 persen dari produk domestik bruto di ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara, menjadikannya salah satu penggerak pertumbuhan yang paling penting, dan bencana semacam itu pasti menimbulkan pertanyaan tentang kerusakan pada industri.
Wisatawan China menyumbang hampir sepertiga pendapatan dari rekor tahun lalu 35 juta kedatangan.
Namun, disamping terjadi kecelakaan, gejolak politik dan bahkan serangan bom selama dekade terakhir, sektor pariwisata tampaknya kebal terhadap berita utama yang buruk, sehingga mendapat julukan “Teflon Thailand”.
Pada Agustus 2015, 20 orang tewas, banyak dari mereka adalah turis China, dalam pemboman di sebuah kuil Bangkok, serangan terburuk dari jenisnya di tanah Thailand.
Kedatangan wisatawan China sedikit menurun setelah serangan tersebut, tetapi segera pulih.
Ant.
Artikel ini ditulis oleh:
Teuku Wildan
















