Jakarta, Aktual.co —Dalam rangka memperingati Hari Kebebasan Pers Nasional, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama dengan Dewan Pers dan UNESCO mengadakan diskusi ‘World Press Fredom Day (WPFD) 2015’.
Kegiatan diskusi ini merupakan yang keempat setelah sebelumnya AJI bersama Dewan Pers didukung Federasi Jurnalis Internasional, dan Development and Peace, menggelar tiga acara terkait kebebasan pers.
Pertama di Papua, kedua diskusi bertajuk kebebasan dan penistaan, dan terakhir peringatan ‘WPFD 2015’ di Taman Menteng.
Kali ini, diskusi bertujuan untuk mencapai jurnalistik yang berkualitas hingga timbul kesetaraan gender dan dunia digital dari kriminalisasi.
“Upaya ini diadakan agar mendapatkan pelaporan jurnalistik berkualitas, hingga tercapau kesetaraan gender dan dunia digital aman dari kriminalisasi,” ujar Suwarjono selaku Ketua Umum AJI kepada Aktual.co, di Gedung Dewan Pers Jakarta, Senin (18/5).
Tak hanya itu, AJI melalui Suwarjono berharap, bahwa perjuangan jurnalis di Indonesia tetap dipertahankan dan diperjuangkan kebebasan pers-nya yang taat terhadap kode etik. Dan, yang paling penting harus diimbangi dengan produk jurnalistik yang berkualitas.
“Dalam hal ini AJI akan terus memperjuangkan kebebasan pers di Indonesia. Karena pers yang bebas harus diimbangi dengan produk jurnalistik berkualitas serta aktivitas jurnalis yang taat pada etika jurnalistik,” papar Suwarjono.
Menurutnya, bila semua jurnalis patuh pada kode etik jurnalistik, hal ini tentunya dapat membuat Kebebasan Pers yang baik ada di Indonesia.
Suwarjono sangat mengapresiasi AJI untuk melakukan pelatihan-pelatihan jurnalisme di seluruh Indonesia untuk bisa meningkatkan kapasitasnya.
“Taat etik, bisa menghindarkan jurnalis dari kekerasan dan gugatan hukum” tegasnya.
“AJI berharap, publik dapat merasakan dampak kebebasan pers, serta mendorong masyarakat sipil, pejabat pemerintah, dan TNI/POLRI untuk taat pers, dengan melaporkan sengketa pers ke Dewan Pers,” harapnya menutup pembicaraan.
Artikel ini ditulis oleh:

















