Amman, Aktual.com – Yordania akan membuka kembali perbatasannya dengan Suriah jika telah siap, kata Menteri Luar Negeri Ayman Safadi, Kamis, dalam sinyal bahwa Amman dapat menunda keputusan yang akan mendorong Presiden Bashar al Assad.
Perdagangan tahunan senilai miliaran dolar antara Eropa dan Teluk bergerak melalui penyeberangan Nassib Suriah-Yordania hingga pertempuran meletus pada 2011. Perbatasan itu dikuasai pemberontak pada 2015 dan penutupannya mencederai perekonomian Suriah dan negara tetangga.
Damaskus mengatakan pada pekan ini bahwa jalan itu siap digunakan tetapi Safadi mengatakan tidak menerima permintaan untuk membukanya kembali.
“Kami akan menangani permintaan dengan semua sikap positif, yang melayani kepentingan kami,” katanya pada jumpa pers dengan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, yang sedang berkunjung.
“Masalah harus stabil,” katanya.
Safadi mengatakan membahas pembukaan kembali perbatasan itu dengan Moskow.
Penguasaan perbatasan oleh pasukan Suriah adalah tujuan utama dari kampanye yang diluncurkan Juni lalu oleh pemerintah dan pasukan Rusia untuk mendapatkan kembali kendali atas bagian barat daya yang dikuasai pemberontak.
Rusia adalah pendukung penting Assad dan pemboman Rusia merupakan inti dari kampanye oleh Assad yang memaksa pemberontak Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang dulu didukung oleh Yordania dan musuh-musuh Barat dan Arab Assad untuk menyerah.
“Yordania pada prinsipnya ingin perbatasan terbuka dengan semua tetangganya. Tapi kapan dan bagaimana (pembukaan Nassib) ini akan bergantung pada kapan kita memastikan kepentingan dan keamanan kita,” tambahnya.
Yordania adalah sekutu AS tetapi Moskow ingin Amman membujuk pemberontak, sebelum perbatasan itu direbut kembali oleh pasukan pemerintah bulan lalu, untuk menyerahkan kendali perbatasan guna mengonsolidasikan kesepakatan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin tahun lalu.
Kesepakatan itu dipersiapkan untuk menyiapkan zona de-eskalasi.
Keputusan Washington untuk tidak melakukan intervensi selama kampanye barat daya merusak kesepakatan itu dan memberi Rusia lampu hijau untuk menghancurkan pemberontak di barat daya, kata para diplomat.
Mereka mengatakan Amman sekarang menginginkan jaminan Rusia untuk membantu memulihkan stabilitas di daerah perbatasan selatan yang sensitif di mana menurut para pejabat tumpahan kekerasan dan radikalisme menimbulkan ancaman.
Sebelum membuka kembali perbatasan, Amman juga ingin polisi militer Rusia memainkan peran yang lebih besar dalam melindungi warga sipil terlantar yang ingin kembali ke daerah yang baru saja dimenangkan oleh tentara Suriah dan untuk menghilangkan ancaman dari milisi Iran.
“Bagi Rusia dan rezim, pembukaan penyeberangan akan memberikan dorongan psikologis besar. Mereka ingin menunjukkan semuanya sekarang dengan cepat menjadi normal dan perang hampir berakhir,” kata sumber diplomatik lain.
Tentara Suriah telah memulihkan kembali kendali sebagian besar negara, dibantu oleh milisi yang didukung Iran dan bom udara Rusia.
Pada tahun ini, mereka mengalahkan pemberontak di daerah tersisa di dekat kota Homs dan Damaskus, menyapu wilayah barat daya dan merebut kembali perbatasan dengan Israel dan Yordania.
Ant.
Artikel ini ditulis oleh:
Teuku Wildan

















