Palembang, Aktual.com – Produsen tahu di Kota Palembang, Sumatera Selatan, untuk menyiasati harga kedelai yang tinggi, membuat pengaturan dua pilihan harga penjualan agar usahanya tetap bisa bertahan.

Salah satu produsen tahu di kawasan Padang Selasa, Bukit Besar, Merry, mengatakan untuk mengatasi kondisi sulit sekarang ini mendorong dirinya untuk kreatif dalam menyiasati perkembangan pasar. “Ibu-ibu yang menjadi pelanggan, akan keberatan bila harga tahu tiba-tiba dinaikkan drastis atau ukurannya diperkecil, kondisi tersebut kami siasati dengan membuat dua ukuran tahu, sehingga harga penjualannya disesuaikan dengan pilihan ukuran tersebut,” ujarnya di Palembang, Jumat (7/9).

Tahu di tempat ini, ungkap Merry, dibuat dua ukuran dengan harga jual mulai Rp800 hingga Rp1.000 per potong.

“Dengan dua pilihan harga tersebut, pelanggan dan para konsumen tidak merasakan bahwa tahu yang dibelinya telah mengalami sedikit kenaikan harga dan terjadi perubahan ukuran,” kata Merry yang mengaku telah menekuni usaha pembuatan tahu sejak tahun 1980 itu menjelaskan.

Menurut dia, tahu produksinya dijual sendiri di pasar tradisional KM 5 Palembang, sehingga untuk memasarkannya tidak terlalu sulit karena bisa langsung menjelaskan kepada pelanggan tentang dua pilihan harga itu.

Secara umum cara menyiasati pasar dengan pola pilihan harga tersebut, kata dia, bisa diterima pelanggan dan barang dagangannya tidak pernah tersisa atau sampai tidak habis terjual.

Setiap hari, dia biasanya menghabiskan 100 kilogram kedelai untuk dijadikan tahu, namun pada kondisi harga bahan baku utama tersebut masih cukup tinggi, terpaksa menurunkan jumlah produksi hingga 50 persennya.

Selain itu, untuk mengatasi biaya produksi yang tinggi, pembuatan tahu yang memerlukan proses pengukusan hingga enam jam itu, digunakan bahan bakar kayu yang diperoleh dari kayu bekas bongkaran rumah, kata dia menambahkan.

Tahu dan tempe juga masih menjadi lauk utama bagi sebagian warga Palembang terutama warga pendatang yang banyak berdomisili di daerah ini.

Sejumlah warung makan dan restoran, juga menyiapkan menu makanan yang terdapat tempe dan tahu goreng maupun variasi berbahan baku tahu dan tempe lainnya.

Salah satu pemilik warung nasi di kawasan Kampus POM IX Palembang, Sri Herman mengatakan tahu dan tempe menjadi lauk pendamping makanan utama seperti gulai ikan, ayam, serta pindang tulang sapi dan ikan baung.

Menyiasati kenaikan harga tahu sekitar Rp200 per potong dan tempe Rp500 per potong (dari Rp1.500 menjadi Rp2.000 per potong) pihaknya menaikkan sedikit harga jual.

Kenaikan harga tahu dan tempe dampak kenaikan bahan baku kacang kedelai yang mayoritas dari impor, sekarang ini masih bisa diimbangi dengan menaikkan sedikit harga jual, jika nilai tukar rupiah semakin terpuruk dan dolar terus naik dikhawatirkan bisa memberstkan pembeli karena harga jual akan dinaikkan lebih tinggi lagi, kata pemilik warung nasi itu.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: