Semarang, Aktual.co — Ratusan guru pendidikan agama Islam (PAI) se-kota Pekalongan mendapat materi pembekalan penangkalan paham radikalisme agama dan faham Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Pembinaan terhadap guru PAI itu merupakan kerjasama Kementerian Agama, dan Kepolisian Resor Kota Pekalongan yang berlangsung di kantor Kemenag Kota Pekalongan di jalan Mataram, Pekalongan, Senin (30/3).
“Maksudnya supaya kita semua tahu mengenai informasi tentang radikalisme agama dan faham ISIS di Indonesia. Kesempatan kali ini mengupas pula tentang bahaya radikalisme agama dan faham ISIS, sehingga harus dicegah keberadaannya di Indonesia,” ungkap Kepala Kemenag Kota Pekalongan H Imam Thobroni.
Dengan begitu, ia berharap ada kesamaan visi dan misi antara Polres, Kemenag, sekolah, dan guru agama untuk menanggulangi faham ISIS. Sehingga tak berkembang di Kota Pekalongan. “Kita harus bersama-sama ikut menanggulanginya, jangan sampai faham ISIS ini masuk ke sekolah dan memengaruhi pemikiran anak didik kita,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan dan Kasat Intelkam Polres Pekalongan Kota AKP Mandala menjadi pembicara utama.
Dalam paparannya, Kapolres Pekalongan Kota AKBP Luthfie Sulistiawan menyebutkan bahwa ISIS merekrut calon anggotanya dengan sejumlah iming-iming menggiurkan agar anak-anak muda ikut bergabung. Berbagai metode perekrutan yang dilakukan ISIS perlu diwaspadai agar tidak menyebar di Kota Pekalongan.
”Meskipun di wilayah Kota Pekalongan belum ada indikasi sudah ada yang masuk ISIS, tetapi penyebaran faham radikalisme agama dan faham ISIS harus kita deteksi sedini mungkin dan kita cegah. Salah satunya melalui peran serta bapak ibu guru agama untuk menyampaikan ke anak didiknya,” katanya.
Menurut dia, guru memiliki peran penting dalam menangkal faham radikalisme ISIS. Sebab, guru merupakan pilar utama dalam pengembangan ideologi bangsa, guru sebagai pemberi doktrin agama yang benar dan anti radikal. “Guru dapat menjadi filter bagi literatur yang dibaca anak didiknya. Selain itu, guru merupakan sosok selain orang tua si anak yang mengetahui perkembangan psikis si anak didik,” jelasnya.
Kapolres menegaskan bahwa saat ini perkembangan ISIS di Indonesia dilakukan antara lain melalui propaganda di media sosial. Penggunaan media sosial ini banyak dipakai anak-anak muda. Sehingga harus diwaspadai agar anak-anak muda dan pelajar tidak terpengaruh.
Propaganda yang disebarkan ISIS antara lain melalui pendekatan agama Islam dengan membid’ahkan ajaran lain di luar faham ISIS. “Juga menjanjikan surga dunia dengan limpahan materi yang diterima ketika Daulah Islamiyah ditegakkan. Serta menjanjikan surga akhirat dengan mati syahid karena jihad, baiat selannjutnya dilatih untuk berperang,” bebernya.
Sejumlah cara untuk menangkal faham ISIS, jelas AKBP Luthfie, yakni dengan memperkokoh persatuan dan kesatuan dengan memahami ideologi Pancasila. Selain itu, belajar agama dengan benar karena agama selalu mengajarkan cinta perdamaian. “Saling menghormati keberagaman SARA, bersikap waspada terhadap orang yang baru dikenal, dan laporkan kepada Polri jika menemukan adanya gerakan ISIS di lingkungan sekitar,” tandasnya.
Sebelumnya, pihaknya memberikan pengarahan dan pembinaan kepada ratusan pengurus OSIS SMA/SMK/MA se-Kota Pekalongan. Kini giliran guru-guru PAI yang digandeng Polres untuk ikut menanggulangi faham ISIS
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby
















