Jakarta, Aktual.co — Tersangka kasus korupsi jual beli gas alam di Bangkalan, Madura, Fuad Amin Imron menyayangkan langkah penyitaan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah lahan milikinya.
Demikian disampaikan Fuad usai menjalani sidang sebagai saksi terdakwa Antonius Bambang Djaimiko di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Senin (23/3), bahwa beberapa tanah dan bangunan yang disita adalah peninggalan nenek moyangnya.
“Terpuruk saya. Aset moyang saya dari 1925 dirampas keluarga besar, terutama milik teman-teman, dirampas dan disita juga. Hak milik saya, 48 tahun saya bekerja juga disita,” sesal Fuad usai sidang.
Oleh karena itu Fuad berharap, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KPK untuk menelusuri kembali apakah beberapa lahan yang sudah disita oleh lembaganya itu sebagai hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang dia lakukan.
“Saya harap pak Taufiequrahman Ruki, saya buat pakta integritas Bupati seluruh Jatim tidak korupsi. Saya mohon agar pak Ruki meneliti lagi aset-aset leluhur yang dirampas,” harapnya.
Kendati demikian, Ketua DPRD bangkalan nonaktif itu tidak meyangkal, bahwa sertifikat beberapa bangunan yang ternyata berupa Masjid itu atas nama dirinya. Namun, dia kembali menegaskan jika Masjid itu murni peninggalan leluhur, dan bukan hasil TPPU.
“Masjid Martajasah. Masjid mbah saya, yang keramat itu terampas tanahnya, disita karena atas nama saya. Termasuk bangunan di atasnya, Masjid Syeikhona Mohammad Kholil, ” pungkasnya.
Seperti diketahui, KPK telah berhasil menyita seluruh harta benda miliki Fuad. Lembaga antirasuah berhasil menyita uang ratusa miliar serta, sejumlah mobil mewah serta setidaknya 100 sertifikat tanah atas nama mantan Bupati Bangkalan dua periode itu.
Untuk diketahui, Syaikhona Kholil merupakan Kiai se-jawa dan Madura, bahkan seluruh Indonesia. Beberapa murid Syaikhona Kholil diantaranya, Pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Hasbullah (Jombang), Kiai Bisri Syansuri (Jombang), Kiai Abdul Manaf (Lirboyo-Kediri), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawir (Krapyak-Yogyakarta), Kiai Bisri Mustofa (Rembang Jateng), Kiai Nawawi (Sidogiri), Kiai Ahmad Shiddiq (Jember), Kiai As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kiai Abdul Majjid (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Toha (Bata-Bata Pamekasan), Kiai Abi Sujak (Astatinggi Kebun Agung, Sumenep), Kiai Usymuni (Pandian Sumenep), Kiai Muhammad Hasan (Genggong Probolinggo), Kiai Zaini Mun’im (Paiton Probolinggo), Kiai Khozin (Buduran Sidoarjo).
Bahkan menurut pengakuan Kiai Asa’ad Samsul Arifin, Presiden RI Pertama, Soekarno, meski tidak resmi sebagai murid Kiai Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Kiai Kholil memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunya
Artikel ini ditulis oleh:
Nebby















