Jakarta, Aktual.co — Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Sofyan Djalil secara tegas membantah pemerintah mengintervensi kebijakan Bank Indonesia (BI), salah satunya kebijakan suku bunga acuan BI (BI rate). Menurutnya, pemerintah selama ini hanya melakukan koordinasi dengan BI dan lembaga keuangan lainnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kita hanya berkoordinasi antara pemerintah, BI, dan OJK melaksanakan tugasnya berdasarkan Undang-Undang. Kita lakukan koordinasi agar punya kesepahaman, BI itu menjalankan kebijakan moneter dan sepenuhnya otonom, ngga ada intervensi,” ujar Sofyan di kantor Kemenko Perekonomian Jakarta, Jumat (13/3).

Seperti diketahui, pada 17 Februari 2015 BI membuat kebijakan untuk menurunkan BI rate 25 basis poin menjadi 7,5 persen. Padahal, pasca kenaikan harga BBM pada November 2014 lalu BI menaikkan suku bunganya 25 basis poin di level 7,75 persen.

Lebih lanjut, Sofyan juga membantah anggapan bahwa pemerintah membiarkan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS untuk menaikkan ekspor. “Kita ingin agar Rupiah stabil. Indonesia tidak punya kepentingan, apalagi pelemahan Rupiah saat ini.”

Menurutnya, fokus pemerintah saat ini adalah menjaga inflasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mengamankan sektor riil. “Kita juga menjamin pembangunan infrastruktur supaya bisa berjalan sebagaimana rencananya,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh: