Banda Aceh, Aktual.co — Gadis kecil itu tersenyum tipis. Namanya Gultas Begang (8) warga Rohingnya asal Myanmar yang kini menempati pos penampungan TPI Kuala Cangkoi, Aceh Utara. Dara mungil ini merekam kekejaman pemerintah Junta Myanmar terhadap warga muslim Rohingnya di Provinsi Arakan.

Dia bersama 330 pengungsi lainnya di tampung di lokasi itu. 90 diantaranya anak-anak, sebagian besar hanya memiliki orang tua tunggal. Bahkan tanpa orang tua. Tercatat 91 orang anak-anak menetap di penampungan sementara itu.

Sebanyak lima orang diantara anak-anak itu memiliki orang tua lengkap. Sisanya orang tua tunggal bahkan tanpa orang tua. Mereka terpaksa menyesuaikan gaya hidup bersama wanita dan pria dewasa lainnya.

Salah satu anak yang hanya memiliki ayah itu adalah Gultas Begang. Sejak gadis cilik itu berusia dua tahun, sang ayah merantau ke Malaysia. Sementara dia, abangnya Muhammad Yusuf (10) dan ibunya menetap di Provinsi Arakan, melewati kekejaman pemerintah junta Myanmar. Bahkan, dia tak mengenali wajah ayahnya.

Ketika di Arakan, Gultas dan abangnya, Muhammad Yusuf, tak mengeyam pendidikan formal. Dia hanya belajar mengaji di perkampungan. Seorang pamannya membawa Gultas dan Muhammad Yusuf berpergian menuju Malaysia. Ayahnya menunggu di negeri jiran itu.

“Begitu di kapal kami berdesakan. Sangat sempit,” ujar Gultas dibantu penerjemah Sabtu (30/5). Ibunya, terbunuh dalam perang etnis di negara itu tahun lalu. “Ibu ditembak di depan mata saya,’ ujarnya pilu.

Ketika dalam perjalanan, dia menahan lapar, dingin dan melawan sakit yang menyerang saban waktu. Di dalam kapal tongkang kayu itu dia berdesakan bertahan hidup dengan pria dan wanita dewasa lainnya. Tubuh mungilnya menahan beban hidup dan penderitaan yang tak setimpal dengan usianya.

Kini, senyum Gultas mulai merekah. Dua hari lalu, ibu tirinya, Nur, mengunjunginya. Sang ibu membaca berita di sebuah surat kabar di Malaysia yang memuat foto Gultas. Dari situlah diketahui Gultas berada di Aceh Utara. Kebetulan, Nur berasal dari Simpang Ulim, Aceh Utara. Nur pun langsung pulang ke Aceh dan menemuinya. Sayangnya, Gultas belum bisa dibawa ke Malaysia bertemu ayahnya.

“Ibu memandikan saya. Beliau membawa foto dan membuktikan bahwa beliau istri ayah saya,” ujarnya.

Pasalnya, dia dianggap tidak memiliki kewarganegaraan, karena Pemerintah Myanmar tak mengakui suku Rohingnya sebagai warga negara. UNHCR menyatakan akan mencari negara ketiga yang bersedia menerima gadis mungil itu sebagai warga negara. Lembaga internasional yang mengurusi pengungsi itu menyebutkan memperioritaskan Gultas agar mendapat warga negara.

Kondisi anak Rohingnya menjadi perhatian banyak pihak. Mereka terancam kehilangan masa depan.

Artikel ini ditulis oleh: