Jakarta, Aktual.co — Mandiri Sekuritas menurunkan prediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir tahun 2015 ini menjadi 5.450 poin dari proyeksi sebelumnya di level 6.350 poin.

“Dalam pandangan Mandiri Sekuritas, adanya kecenderungan terjadinya pengaturan harga barang dan ketidakpastian aturan hukum di Indonesia terkait perseteruan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akan menurunkan daya tarik Indonesia bagi investor langsung,” kata Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, John Rachmat dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (5/3).

Menurut dia, jika pengeluaran investasi jauh dari ekspektasi, maka realisasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun ini juga akan turun. Hal itu akan memicu gelombang penurunan prediksi laba, karena banyak dari valuasi pertumbuhan pendapatan sektoral yang signifikan sudah memfaktorkan (priced in) pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Di sisi lain, John Rachmat mengatakan bahwa masih adanya kekhawatiran investor pada keputusan bank sentral AS (The Fed) yang akan mulai menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate) pada tahun 2015 ini, juga akan dapat menekan rupiah dan pasar saham Indonesia.

“Namun, hingga risiko negatif itu terjadi, kami mengusulkan investor untuk mengikuti ‘rally’ penguatan IHSG BEI saat ini dengan beberapa saham pilihan,” katanya.

Ia merekomendasikan beberapa saham pilihan yang akan diuntungkan dari penurunan suku bunga diantaranya Bank Danamon Tbk (BDMN), Lippo Cikarang (LPCK), Summarecon Agung Tbk (SMRA), dari sektor infrastruktur yakni Wijaya Karya Tbk (WIKA), Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).

Sementara pilihan saham yang didukung dari pertumbuhan ekonomi domestik yakni Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG).

Berdasarkan prediksi Mandiri Sekuritas, IHSG masih dapat terangkat ke level 5.800 poin pada Juli 2015 mendatang, yang didukung dari berita positif lama yakni reformasi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, disetujuinya APBN-P 2015 yang fokus pada pengembangan infrastruktur, penurunan suku bunga (BI rate), dan potensi naiknya peringkat atau ‘rating’ utang Indonesia dari Standard & Poor’s (S&P).

Artikel ini ditulis oleh:

Eka