Semarang, Aktual.co — Sebanyak 33 orang pekerja tambang batu bara tewas akibat ledakan kecelakaan kerja di Ukraina Timur, Rabu (5/3) kemarin.

Berdasarkan informasi awal kantor berita resmi Donestik, bahwa mayat ditemukan dalam kondisi luka bakar dalam ledakan tambang di Zasyadko yang disebabkan oleh gas metana.

“Ini terjadi bukan karena penembakan,” kata seorang pejabat layanan darurat kepada kantor berita resmi Republik Rakyat Donetsk yang sudah memproklamasikan menjadi negara merdeka.

Seperti dilansir laman berita CNN, ledakan itu terjadi tepat sebelum pukul 06:00 waktu setempat. Saat itu, ada 230 orang yang berada di lokasi penambangan tambang. Dari jumlah tersebut, 157 berhasil dievakuasi lebih awal setelah ledakan terjadi, dan termasuk 14 luka-luka dan satu orang tewas,

“Lima belas tim penyelamat bekerja di tempat kejadian,” katanya.

Tambang Zasyadko merupakan salah satu lokasi yang paling berbahaya dalam hal metana di wilayah Ukraina.

Menurut kantor berita Ukraina, Ukrinform, dilaporkan sebanyak 240 orang telah meninggal di tambang sejak 1999 silam. Dan sebanyak 101 penambang tewas dalam kecelakaan tunggal pada tahun 2007 lalu.

Perdana Menteri Ukraina Arseniy Yatsenyuk angkat bicara saat pertemuan Kabinet yang menuduh ada separatis pro-Rusia.  Dia menyangkal telah mengontrol wilayah Ukraina melalui akses tim penyelamat.

Dia mendesak Rusia untuk menginformasikan separatis yang memungkinkan terlibat dalam tim penyelamat tersebut.

Selain itu, Presiden Ukraina Petro Poroshenko disebut juga sebagai tim penyelamat yang diizinkan masuk untuk melihat TKP.

“Saya menuntut petugas penyelamat Ukraina dan peneliti yang akan memberikan akses di lokasi tragedi itu,” kata dia dalam akun Twitter-nya.

Namun, perwakilan senat Denis Pushilin menyebutkan, bahwa Ukraina tidak menawarkan bantuan berupa tim penyelamatan. Dan, Senat setempat akan diminta bantuan Rusia atau otoritas separatis di Luhansk jika diperlukan.

Sekedar informasi, pemimpin separatis Aleksandr Zakharchenko mengeluarkan perintah untuk menutup tambang sebulan lalu. Namun demikian, Manager tambang justru mengabaikan perintah tersebut, lantaran tambang adalah legal milik Ukraina.

Gencatan senjata saat ini mulai meredam di wilayah Donetsk dengan Luhansk, pusat konflik berbulan-bulan antara separatis pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina.

Artikel ini ditulis oleh: