Jakarta, Aktual.co — Sidang perdana kasus bom ‘Boston Marathon’ dengan tersangka Dzhokhar Tsarnaev (DS) resmi digelar di Pengadilan Tinggi kota Boston, Amerika Serikat, pada Rabu (4/3) waktu setempat atau Kamis WIB. Pada sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum, William Weinreb setidaknya membacakan 30 dakwaan terhadap Tsarnaev.
Jalannya persidangan diselimuti dengan hawa kemarahan keluarga korban yang tewas dan yang masih hidup maupun masyarakat yang hadir. Seakan kembali mengingatkan saat kejadian dua tahun silam, membuat korban yang hadir dalam persidangan tersebut tak kuasa menahan kesedihan.
Begitu juga dengan pernyataan pertama yang keluar dari mulut Jaksa Weinreb. Dia mengatakan bahwa Tsarnaev adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kejadian yang mengakibatkan 260 orang terluka.
“Saat dia meledakkan bom di dalam hatinya (Tsarnaev) hanya terlintas satu kata ‘pembunuhan’. Dia harus bertanggung jawab atas serangan itu,” tegas Weinreb, dilansir BBC, Kamis (5/3).
Selain itu, pada sidang tersebut Jaksa Weinreb juga menceritakan kembali detik-detik sebelum bom meledak hingga setelahnya. Dia mengatakan, kala itu di titik ledakan banyak anak-anak yang sedang menonton para pelari yang sedang berlomba. Dan sesaat, kondisi di tempat kejadian menjadi mencekam.
“Udara dipenuhi dengan bau belerang dan jeritan korban. Banyak anak-anak berdiri di sana sambil melihat pelari melewati garis finis,” terangnya.
“Bom memang identik dengan teroris. Itu karena bom adalh cara paling mudah untuk menghilangkan banyak nyawa dan bagian tubuh, serta membuat tontonan berdarah,” ujarnya.
Meski begitu, tersangka yang sebenarnya tergolong remaja itu menyangkal apa yang dituduhkan oleh Jaksa Weinreb. Pengacara Tsarnaev, Juddy Clarke juga mendukung dan tetap menganggap kliennya tidak ‘benar-benar’ bersalah. Menurutnya, pria 21 tahun itu dipengaruhi oleh kakaknya sendiri, Tamerlan Tsarnaev.
“Itu dia, dalang dari semua kejadian itu adalah kakaknya. Dia memaksa Tsarnaev untuk terlibat,” tutur Clarke.
‘Boston Marathon’ dianggap sebagai teror paling memematikan di Amerika Serikat setelah meledaknya gedung World Trade Centre pada September 2011 silam. Meski tidak banyak menelan korban jiwa, kejadian berdarah tersebut membuat rakyat negara Paman Sam ketakutan luar biasa.
Untuk diketahui, peristiwa yang terjadi saat lomba lari itu menewaskan tiga orang, satu diantaranya anak berusia delapan tahun. Lebih dari 260 orang terluka, dan sejumlah korban juga kehilangan anggota tubuhnya seperti tangan dan kaki.
Pasca pengeboman tersebut, kepolisian Boston langsung menggelar operasi besar-besaran. Tepat 20 April 2013, setelah aksi perburuan dan tembak-menembak sengit, polisi Boston berhasil meringkus Tsarnaev, tapi sayangnya kakaknya tewas akibat diberondong peluru.
Tsarnaev sendiri ditemukan saat bersembunyi dengan keadaan tertembak di dalam sebuah perahu yang tertambat di halaman belakang salah satu rumah di Watertown, Massachusetts, Amerika Serikat.
Artikel ini ditulis oleh:

















