Semarang, Aktual.co — Diperkiraan jumlah orang yang tewas di Ukraina Timur selama periode April 2014 hingga sekarang mencapai lebih dari 6.000 orang. Dari jumlah tewasnya korban senjata berturut-turut tersebut resmi dikeluarkan kantor HAM PBB dalam sebuah pernyataannya pada Senin (2/3) lalu.
Eskalasi tingginya pertempuran dalam beberapa pekan terakhir, terutama terjadi di dekat Bandara Donetsk dan di daerah Debaltseve, mengakibatkan ratusan kematian, baik sipil maupun pihak Militer.
“Kejadian ini menggambarkan kehancuran tanpa ampun bagi kehidupan sipil dan infrastruktur-nya,” kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra’ad Al Hussein.
Al Husein menyerukan, agar semua pihak untuk mematuhi kesepakatan Minsk, yang menyerukan gencatan senjata di banyak ‘titik api’ konflik tersebut.
Tragedi kemanusiaan.
Pertempuran di Ukraina itu telah mengakibatkan tragedy kemanusiaan yang ekstrim terhadap warga sipil.
“Banyak yang telah terjebak di daerah konflik, terpaksa berlindung di ruang bawah tanah, dengan hampir tidak ada air minum, makanan, pemanas, listrik atau obat-obatan dasar,” kata Zeid dalam sebuah pernyataannya.
Gagasan bahwa warga sipil tetap berada di zona konflik merupakan kehendak mereka sendiri.
“Banyak orang yang takut untuk hidup, jika mereka mencoba untuk bergerak. Banyak orang lain tinggal untuk melindungi anak-anak, anggota keluarga lain, atau properti mereka. Dan, ada pula yang terpaksa tinggal di luar kehendak mereka, atau hanya secara fisik tidak mampu untuk pergi,” kata Zeid.
Serangan teror
Ia kembali menuturkan, serangkaian serangan teror di Mariupol, serta di Kharkiv dan Odesa, yang berada di luar zona konflik, telah menjadi ‘preseden’ buruk.
“Haruskah tren ini terus berlanjut, ini akan mewakili bab baru dan sangat mematikan dalam konflik ini, memperluas daerah di mana aturan hukum dan perlindungan hak asasi manusia secara efektif tidak ada,” kata Zeid.
Artikel ini ditulis oleh:

















