Jakarta, Aktual.co — Sebuah surat kabar Tiongkok yang dekat dengan Partai Komunis yang berkuasa pada Senin (2/3), mengutuk pembunuhan pemimpin oposisi Rusia, Boris Nemtsov, dan mengatakan pembunuhan itu membuat badan politik Rusia rusak parah.
“Kejadian ini telah menjadi pukulan berat bagi persatuan nasional Rusia dan menambah tekanan kepada pemerintah Rusia dalam menangani isu-isu ‘berduri’ (sensitif),” kata tabloid Global Times dalam editorialnya.
Nemtsov, pejuang anti-korupsi berusia 55 tahun yang juga kritikus pemerintah dan mantan wakil perdana menteri Rusia pada 1990-an di bawah Boris Yeltsin, ditembak di bagian belakang tak lama sebelum tengah malam Jumat (27/2) di dekat Kremlin. Penembakan Nemtsov itu memicu munculnya banyak aksi protes anti-pemerintah.
Editorial Global Times, yang sebagian mengkritik keras pembunuhan Nemtsov sementara di beberapa bagian lain menunjukkan rasa simpatik kepada Pemerintah Rusia, mencerminkan posisi Tiongkok sebagai sekutu Rusia, di mana Presiden Vladimir Putin diketahui memiliki hubungan dekat dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
“Pembunuhan Nemtsov bertentangan dengan logika politik umum dan masyarakat merasa aneh tentang hal itu,” kata editorial surat kabar itu.
Namun, Global Times dengan hati-hati menekankan bahwa Putin telah mengutuk pembunuhan itu, dan bahkan menyebutkan laporan-laporan media Barat “menyiratkan bahwa Putin berada di balik pembunuhan ini”.
“Masyarakat Tiongkok sangat ingin melihat Rusia stabil di bawah pemerintahan Putin dan terkejut melihat perilaku kejam yang terjadi di Moskow,” kata surat kabar yang berafiliasi dengan People’s Daily, yang merupakan surat kabar milik Partai Komunis.
“Kami berharap pembunuhan itu hanya sebuah kasus yang berdiri sendiri dan tidak se-memilukan seperti yang telah digambarkan dalam media Barat.” Editorial Global Times juga mengutuk pembunuhan politik dan menyebutnya sebagai “tindakan yang paling memalukan” dan “strategi usang” yang jarang digunakan dalam masyarakat “beradab”.
“Pembunuhan para pemimpin oposisi sangat tidak masuk akal karena kemarahan yang dipicu oleh tindakan (pembunuhan) seperti itu hanya dapat meningkatkan kohesi oposisi, bukan melemahkannya”.
Artikel ini ditulis oleh:

















