Semarang, Aktual.co — Liberia kembali membuka jalur penyeberangan perbatasan darat yang ditutup selama wabah Ebola menyerang. Presiden Ellen Johnson Sirleaf kembali menambah jam malam nasional yang diberlakukan seperti di bulan Agustus 2014 lalu.

Langkah tersebut dilakukan pihaknya untuk membantu memerangi virus Ebola. Perintahnya mulai berlaku pada Minggu kemarin. Bahkan, setelah menutup sekolah yang hari minggu dan kembali dibuka setelah absen selama lima bulan.

Liberia merupakan negara yang menjadi sarang virus mematikan tersebut. Dari data Organisai Kesehatan Dunia (WHO), demikian dilansir CNN, virus itu telah menewaskan sekitar 9.365 orang yang sebagian besar bermukim di Guinea, Sierra Leone dan Liberia.

Sekitar 3.900 kematian telah terjadi di Liberia, yang begitu parah terserang. Pihak kesehatan setempat menyatakan kekurangan kantong mayat mirip tahun lalu.

Pada bulan Oktober, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan, jumlah kasus baru di Liberia menurun, dengan penguburan lebih sedikit, meskipun ruangan laboratorium atau rumah sakit sangat sempit.

Angka menurun
Dalam update terbarunya, WHO melaporkan dua kasus yang dikonfirmasi baru terjadi di Liberia untuk akhir pekan per tanggal 15 Februari. Sebaliknya, total 52 kasus baru dilaporkan di Guinea. Sedangkan, di Sierra Leone baru memiliki 74 kasus.

“Liberia menutup perbatasannya dengan Sierra Leone dan Guinea pada bulan Juli dalam menanggapi wabah. Perbatasan itu akan dibuka kembali Minggu,” terang Johnson Sirleaf.

Presiden menyatakan optimisme sekaligus kepuasannya.

“Kementerian Kesehatan telah diminta untuk memastikan adopsi dan implementasi protokol kesehatan yang akan mencegah timbulnya virus melalui salah satu titik persimpangan,” katanya dalam sebuah pernyataan.

“Anggota keamanan bersama yang ditugaskan di perbatasan diberikan mandat untuk bekerja sama dengan otoritas kesehatan setempat dalam memastikan kepatuhan terhadap protokol kesehatan dan keselamatan setiap harinya.”

Untuk diketahui, virus Ebola ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari orang yang terinfeksi.

Lokasi penyeberangan perbatasan darat di Liberia yang ditutup selama wabah Ebola terjangkit, akhirnya dibuka menjadi sinyal positif di negara tersebut, yang merupakan pusat dari virus mematikan itu.

Artikel ini ditulis oleh: