Jakarta, Aktual.co — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Nusa Tenggara Timur berharap Maria Carolina Theresa Noge, Puteri Indonesia asal NTT terpilih menjadi Putri Kepulauan Nusa Tenggara atau Sunda Kecil (Bali, NTB dan NTT) hingga dapat menarik wisatawan.
“Kita berharap prestasi yang diraih buah hati pasangan Carolus Dae dan Yosepha Rehina Masi itu, dikembangkan untuk kepentingan pariwisata di Sunda Kecil terutama di Nusa Tenggara Timur yang kaya akan potensi pariwisata, namun masih tertinggal soal promosi,” kata Ketua Dekranasda NTT Lucia Adinda Dua Lebu Raya di Kupang, Minggu (22/2).
Isteri dari Gubernur Frans Lebu Raya itu mengaku selama ini keunggulan-keunggulan yang ada di NTT dari aspek Pariwisata sistem promosinya lebih pada teks atau brosur dan masih kurang menangkap peluang lain untuk sosialisasi seperti duta wisata dan putri Indonesia dengan berbagai gelar yang disandangkan dan cocok dengan tematik wisata.
Maria Carolina Theresa Noge, misalnya Puteri Indonesia asal NTT yang terpilih menjadi Putri Kepulauan Nusa Tenggara atau Sunda Kecil diharapkan “ditangkap” untuk kepentinggan promosi dan sosialisasi potensi wisata yang ada untuk kemajuan daaerah ini.
Apalagi katanya gelar yang disandang itu diraih setelah terpilih dalam 10 besar pada ajang kontes pemilihan Puteri Indonesia 2015 pada Grand Final, Jumat 20 Februari 2015 yang disiarkan Indosiar, merupakan peluang besar,” katanya.
“Ini pertama kali buat perwakilan NTT masuk 10 besar di ajang bergengsi ini dan terpilih menjadi Putri Kepulauan Nusa Tenggara atau Sunda Kecil (Bali, NTB dan NTT),” katanya.
Sehingga menurut Ketua DPD Perempuan Sarina NTT itu pihak pemerintah dan pengusaha sektor Pariwisata perlu memanfaatkan peluang ini untuk mencapai target pencapaian kunjungan wisatawan atau lainnya.
NTT katanya oleh Dinas Parekraf Provinsi Nusa Tenggara Timur menargetkan sebanyak 600 ribu dari 20 juta wisatawan akan mengunjungi Nusa Tenggara Timur pada 2015 untuk mewujudkan visi NTT menjadi destinasi unggulan wisata di Indonesia.
“Ini target yang ditetapkan dengan merujuk pada realisasi kunjungan wisatawan pada 2014 yang hingga Oktober baru mencapai 530.945 dari target 550 ribu orang pelancong dari dalam maupun luar negeri,” katanya.
Ia mengatakan untuk mencapai target itu, maka pengembangan pariwisata di daerah berbasiskan kepulauan ini harus menggandeng pihak swasta dan stakeholder lainnya guna mengoptimalkan program dan obyek wisata yang ada sebagai pemuci dan daya tarik wisatawan.
“Melibatakan pihak swasta dalam mengelola dan mengembangkan program itu merupakan realisasi kesepakatan antara Kemenparekraf bersama Dinas Parekraf Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan stakeholder terkait berkomitmen mengimplementasikan beberapa program untuk pengembangan sektor pariwisata NTT,” katanya.
Ia menyebut sebanyak delapan poin program pengembangan tersebut disusun dan disepakati untuk mewujudkan visi NTT menjadi destinasi unggulan wisata di Indonesia.
Program ini perlu disusun bersama dengan stakeholder terkait karena beberapa permasalahan. Misalnya swasta sering tidak diikutsertakan dalam perencanaan mulai dari masterplan hingga implementasi program.
Sebelumnya secara nasional Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dinilai akan sulit mencapai target kunjungan wisata hingga 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) sampai 2019 jika tidak didukung oleh inisiatif seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat, kata pengamat Pariwisata Universitas Indonesia (UI) Jajang Gunawijaya.
“Target presiden yang memberikan tugas kepada Kemenpar untuk mewujudkan kunjungan 20 juta wisman itu berat dan akan sulit dicapai jika tidak dibantu oleh instansi terkait lain. Sebab indikator keberhasilan Pariwisata juga lebih sering ada di kementerian lain seperti infrastruktur, transportasi, dan lain-lain,” kata Jajang di Jakarta, Sabtu.
Artikel ini ditulis oleh:















