Jakarta, Aktual.co — Pengamat Energi dari Migas Watch, Widodo Edi Setyanto menilai bahwa telah terjadi kongkalikong antara PT Pertamina (Persero) melalui ISC dengan pihak Total Trading Asia Pte Ltd dalam tender LPG yang digelar beberapa bulan lalu guna memenuhi kebutuhan pasokan di April 2015.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam tender LPG yang terdiri atas Butane dan Propane untuk loading bulan April 2015 dengan spot total 44 ribu Metric Ton (MT) tersebut ISC menunjuk Total sebagai pemenang yang jelas melakukan pricing untuk Maret 2015 sehingga jelas melenceng dari TOR yang ditetapkan pada April 2015. Padahal belakangan terbukti bahwa harga LPG pada April jauh lebih murah dibanding dengan harga pada Maret 2015.
“Itu kan berarti ada kongkalikong dengan Total, harusnya kan ada hedging price. Jadi disitu bid-nya harus bagaimana, kalau rugi terus yah artinya ISC ini juga sarang mafia,” kata Widodo saat berbicang dengan Aktual di Jakarta, Selasa (12/5).
ISC sendiri telah mengklarifikasi isu kecurangan pihaknya dalam tender LPG yang telah dimenangkan oleh Total Trading Asia Pte Ltd. VP ISC Daniel Purba berdalih bahwa pihaknya tidak dapat memprediksi berapakah harga CP Aramco di bulan tertentu dalam hal ini bulan April 2015. Sehingga ketika ada penawaran yang lebih murah meski dengan pricing Maret maka itu yang dipertimbangkan.
Menanggapi hal itu, Widodo justru menuding bahwa alasan tersebut hanyalah ‘akan-akalan’ untuk mengelabui publik.
“Bohong itu, harga apapun bergantung pada situasi dunia, pada kondisi global. Apalagi ini kan komoditas. Artinya bisa teramal semua. Saya rasa itu hanya akal-akalannya Daniel Purba (Vice President ISC) saja,” ujar dia.
Seharusnya, sambung dia, perusahaan migas sekaliber Pertamina tentu punya tim ahli trading yang bisa memprediksi pergerakan harga migas sesuai dengan kondisi global yang tengah berkembang.
“Pasti dalam satu perusahaan itu ada ahli trading. Untuk itu kan bisa dilihat dari ekonomi dunia atau harga minyak dunia, politik dunia, pasar keuangan, bagaimana pertumbuhan ekonomi di negara-negara minyak terbanyak di dunia. Juga dengan masalah konflik di Timur Tengah yang sedang terjadi. Itu semua bisa diprediksi kan,” ungkapnya.

Artikel ini ditulis oleh: