Jakarta, Aktual.co — Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) menilai faktor pelemahan Rupiah dipicu juga oleh faktor eksternal, terutama masalah ketergantungan terhadap barang impor.
“Turunnya Rupiah di hadapan dolar AS ada karena masih bergantung pada barang impor,” ucap Aher di Kantor Bappenas, Jakarta, Senin (11/5) malam.
Dalam hal ini, Aher meminta pemerintah pusat dan industri pada khususnya agar mengubah pola pikir, untuk tidak lagi menggunakan bahan baku impor. Menurut Aher, bahan baku tersebut harus dapat diproduksi oleh dalam negeri sendiri. Lantaran kata dia, masih tingginya impor menyebabkan perekonomian Indonesia rentan sekali terhadap pelemahan nilai tukar Rupiah.
“Kemudian ketika ada peristiwa perlambatan ekonomi Jawa Barat paling dahulu terkena karena 50 persen lebih industri manufaktur ada di Jawa Barat. Jadi para ekonomi katakan mengapa terjadi perlambatan, pertama karena eksternal. Tapi yang kedua yang barangkali harus jadi perhatian kita semua untuk memperkuat basis perekonomian kita dengan industri nilai tambah,” tegasnya.
Dengan cara memperkuat industri di dalam negeri yang memproduksi bahan baku dan membuat industri nilai tambah, lanjut Aher, akan membuat kekuatan ekonomi baru, sehingga Rupiah pun akan menjadi kuat, karena tidak tergantung pada impor.
“Justru sejatinya bahan yang kita ekspor adalah bahan jadi. Dengan kita ekspor bahan mentah kita sama saja dengan ekspor lapangan kerja. Ini yang saya kira terkait dengan kemandirian perekonomian,” paparnya.
Seperti diketahui, dari data Bloomber Dollar Index, laju nilai tukar Rupiah  terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bertengger di kisaran level Rp 13.000 sejak awal Mei. Rupiah bahkan sempat tembus di level Rp 13.200 per dolar AS. Hari ini, Selasa (12/50, Kurs Tengah BI, Rupiah kembali  tertekan di posisi 13.203 per dolar AS. Pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi salah satu pemicu pelemahan mata uang Garuda tersebut. 

Artikel ini ditulis oleh: